Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Sabtu, 07 April 2012

Sebebas Merpati :)



     Namaku Lita, usiaku 15 tahun, dan aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Ibuku bernama Yunia, dan ayahku bernama Ferdian. Kakak pertamaku adalah seorang laki-laki bernama Putra, selisih usia kami terbilang cukup jauh, yaitu 10 tahun. Sedangkan kakakku yang lainnya adalah seorang perempuan bernama Putri, dan selisih usia kami tidak sejauh selisih antara aku dan kak Putra. Perbedaan usia diantara kami hanya sekitar 4 tahun saja.
     Kakak pertamaku, kak Putra, sudah memulai hidupnya sendiri sejak ia mulai memasuki dan menduduki bangku perguruan tinggi yang ia jalani. Sedangkan kakak keduaku, kak Putri, memilih untuk tinggal di sebuah asrama putri tempat ia menempuh pendidikan perguruan tinggi. Inilah nasib sebagai anak bungsu. Terkadang aku merasa bahagia, karena orangtuaku selalu memberiku perhatian yang lebih disbanding kepada kakak-kakakku yang sudah mulai menginjak dewasa bahkan memang sudah dewasa.
     Siapa yang tidak senang diberikan perhatian lebih oleh orangtua? Diberikan segala apapun yang diinginkan, apakah tidak menyenangkan?
     Ya, memang sangat menyenangkan menjadi anak bungsu. Dimanja, diberikan perhatian, disayang, dan selalu di utamakan. Tapi semua padanganku berakhir ketika aku mulai memasuki dunia remaja.
    Pada suatu hari, sekolahku akan mengadakan sebuah acara berkemah. Acara ini ditujukan agar para siswa dan siswi di didik dan di latih untuk menjadi seseorang yang mandiri dan lebih berani. Aku dan teman-teman sebayaku sangat menyambutnya dengan penuh kegirangan, suka cita, dan semangat yang sangat tinggi. Aku dan teman-teman pun tak pernah berhenti berandai-andai apa sajakah yang akan kami lakukan dan bagaimanakah perjalanan itu akan sangat menyenangkan.
     “Ma, 3 hari lagi sekolahku ngadain acara berkemah di cibubur, boleh?” tanyaku pada mama yang sedang asyik membaca majalah.
     Mama hanya terdiam, sepertinya beliau tidak mendengar ucapanku karena sedang asyik membaca majalah kesukaannya.
     “Ma, aku boleh nggak ikut berkemah di cibubur dari sekolah, 3 hari lagi, boleh ya??” aku mencoba membujuk.
     “Nggak usah, nanti kalau kamu kenapa-kenapa disana, siapa yang mau tanggung jawab??” ucap mama dengan nada yang terdengar menyebalkan di telinga.
     “Masa nggak boleh sih, ma?”
     “Kamu tuh masih kecil, masih bau kencur, nggak usahlah jauh-jauh dari orangtua dulu. Mama dan papa itu cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Lagian kamu itu nggak seperti kakak-kakak kamu..” kata mama.
     “Ma, please…..”
     “Keputusan mama sudah bulat. Kamu tidak boleh ikut berkemah!”
     Aku menggumam kesal dalam hati. Hanya ikut berkemah saja tidak boleh, padahal ini pun adalah acara dari sekolah. Usiaku sudah 15 tahun, dan menurutku itu bukanlah usia anak-anak lagi. Tapi kenapa mama dan papa masih terus menganggapku sebagai anak kecil? Aku ingin bebas. Aku ingin terbang sebebas merpati. Aku ingin aku dapat melakukan apapun yang aku sukai. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain.
     Keesokan harinya, aku dan teman-temanku berkumpul untuk membicarakan tentang masalah berkemah itu. Nyatanya hanya akulah diantara mereka semua yang DILARANG untuk pergi berkemah.Aku pun menangis tersedu. Aku iri pada teman-temanku. Aku ingin orangtuaku seperti orangtua mereka semua yang memberikan kebebasan pada anakanya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan.
     TUHAN TIDAK ADIL. Jika aku dapat meminta, aku ingin orangtuaku diganti, aku tak ingin  memiliki orangtua yang selalu membatasi apapun kegiatanku. Aku tak ingin memiliki orangtua yang selalu melarang apapun yang kusukai. Bukankah seharusnya orangtua mendukung setiap kegiatan anaknya? Apalagi kegiatan berkemah ini bukanlah suatu kegiatan yang berbau ke arah negative. Terkadang aku tak habis fikir dengan jalan fikiran kedua orangtuaku. Apakah oranngtua selalu benar??
     Ketika hari yang ditunggu tiba, semua teman-temanku bergegas pergi untuk berkemah, dan hanya aku yang terdiam meratapi nasibku. Memandangi teman-temanku yang akan segera berangkat berkemah, sungguh hal yang sangat menyedihkan untukku. Akhirnya, ketika satu per satu bis sudah memulai perjalanan, aku pun segera kembali ke rumah dengan berlari seraya menangis tersedu-sedu.  
      “Kamu kenapa nangis kayak gitu??” tanya mama.
     Aku terdiam dan berlari memasuki kamar seolah tidak mendengar suara mama. Aku masih sangat kesal dengan larangannya kepadaku sehingga hanya akulah satu-satunya siswi yang tidak mengikuti kegiatan tersebut.
      “Kamu masih marah sama mama??”
      “Mama nyebelin!!!”
      “Mama bukan bermaksud untuk melarang kamu, lita..”
      “Terus kalau bukan ngelarang, itu namanya apa, ma?!!”
     Mama terdiam sejenak, lalu mulai menitikkan airmata. Aku yang sedang di kelilingi oleh rasa amarah tidak dapat mengendalikan emosiku yang sudah mencapai titik puncak sehingga tidak memperdulikan sedikit katapun yang terlontar dari mulut mama.
  Aku meninggalkannya, memasuki kamar dan mengunci pintunya agar tak satupun orang bisa menggangguku. Kunyalakan musik dan ku putar semua lagu-lagu kesukaanku dengan volume yang tidak kecil. Tak lama kemudian aku pun tertidur dengan lelapnya.
    Dan keesokan harinya, saat aku terbangun dari tidur lelapku, aku baru tersadar bahwa perlakuanku terhadap mama sudah sangatlah keterlaluan. Aku sebagai seorang anak, tidak sepantasnya melakukan hal seburuk itu pada seseorang yang telah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku ke dunia. Tanpanya, aku tak akan pernah ada di bumi. Tanpanya, aku bukanlah apa-apa. Dan tanpanya, aku tak tahu aku akan jadi apa. Durhaka sekali aku ini! Tidak tahu diri! Anak macam apa aku ini!
     Namun saat aku hendak meminta maaf pada kedua orangtuaku, terutama kepada ibuku, suasana tampak begitu sepi. Tidak ada seorangpun dirumah kecuali diriku.
     Kemana mama?? Kemana papa??
     Kemana mereka????
    Aku mulai panik. Ku coba hubungi ponsel mama, ternyata tidak aktif. Ku coba untuk hubungi ponsel papa, namun selalu saja sibuk. Aku takut. Aku bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dan aku tak tahu harus bagaimana tanpa mereka.
   Apakah mereka membenciku?? Apakah mereka memang sengaja ingin meninggalkanku?? Apakah mereka……………
     AKU SANGAT MENYESAL! Aku memang manusia paling bodoh dan tidak tahu diri. Seharusnya aku merasa bangga, karena memiliki mereka, orangtua yang sangat mencintaiku. Seharusnya aku bersyukur, karena Tuhan masih sangat baik kepadaku. Aku masih diberikan kesempatan untuk dapat berkumpul bersama kedua orangtuaku. Seharusnya aku sadar! Masih banyak seseorang di luar sana yang tidak seberuntung diriku.
       Aku menangis terisak-isak sambil terus memanggil mama dan papa.
     “Anak mama dan papa yang cantik ini nggak boleh nangis terus ah, nanti cantiknya luntur loh..” kata seseorang dari balik tubuhku yang suaranya tak asing lagi ditelinga. Itu suara mama!
      Aku menoleh ke belakang dan segera mendekap penuh tubuhnya. Tangisku semakin tak tertahankan lagi melihat kehadiran mereka di hadapan kedua mataku.
         “Ma, maafin Lita…”
     “Pintu maaf mama selalu terbuka lebar untuk kamu, sayang..” ucap mama dengan lembut seraya membelai halus rambutku.
        “Maafin Lita, pa..”
     “Pintu maaf papa dan mama akan selalu terbuka untuk kamu. Tapi ingat, jangan di ulangi lagi..” kata papa.
        “Lita nyesel, pa, ma. Lita janji nggak akan gitu lagi.”
     “Mama dan papa melarang kamu bukan untuk membatasi kegiatan kamu, tetapi kami hanya masih khawatir terhadap pergaulan seusia kamu..” ungkap mama.
     Aku tersenyum lalu mendekap tubuh sepasang insan di depanku yang sangat aku cintai. Semua ini benar-benar membuatku tersadar bahwa selama ini aku telah memiliki harta yang tidak dimiliki oleh oranglain, orangtua yang sangat mencintaiku dengan sepenuh hati. Aku tidak perlu hidup sebebas merpati hanya untuk meraih sebuah kebahagiaan. Kebahagiaanku adalah kekayaanku, dan kekayaanku adalah kedua orangtuaku.


TAMAT

created by : Ayuditha Aninda Putri

2 komentar:

Nabilla Risma Aulia mengatakan...

keren cerpennya...
berbakat nih...

Ayuditha Aninda Putri mengatakan...

hehe terimakasih nabilla :D

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal