Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Sabtu, 07 April 2012

Cinta di ujung jalan :)



     Masih harus naik angkot setelah sampai di ujung jalan, lalu berhenti dan turun tepat di depan komplek perumahan Bumi Indah Asri. Disanalah tempat aku tinggal, tempatku dibesarkan dan tumbuh bersama orang-orang yang sangat kusayangi.
     Namaku adalah Windy. Gadis kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1995 yang kini tengah duduk di bangku pendidikan kelas 2 SMA. Aku adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Aku memiliki seorang adik perempuan bernama Vany yang masih berusia 10 tahun lebih muda dariku. Sebagai anak pertama, tentu aku memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap adikku dan keluargaku.
     Aku tidaklah terlahir dalam sebuah keluarga yang kaya raya. Meskipun hidup sederhana, aku tetap bahagia dengan hidup yang kujalani. Harta bukanlah sesuatu yang dapat menjamin kebahagiaan seseorang. Tidak semua hal dapat dibeli dengan uang dan harta, termasuk kebahagiaan.
     Pada suatu hari ketika sepulang sekolah, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang nampaknya sebaya denganku. Dia tidak terlihat lusuh, kusam, ataupun seperti seseorang yang kurang mampu. Dia justru terlihat rapi, bersih, dan tampak seperti anak orang kaya.
     Aku mencoba menghampirinya, “Sering banget sendirian disini? Lagi nunggu seseorang ya? Atau, memang lagi ada perlu?”
     Laki-laki itu hanya terdiam menatapku dengan tatapan yang dingin.
     “Maaf kalau salah ngomong, permisi..”
     Namun  ketika aku hendak pergi menjauh dari laki-laki itu, dia meraih tanganku.
     “Gue, Raffa.. lo siapa?” kata orang itu.
     Aku tersenyum, “Windy. Nama saya Windy. Maaf sebelumnya, tetapi saya sering lihat kamu di ujung jalan ini sendiri. Lagi nunggu seseorang ya?” tanyaku.
     “Sebenernya..gue juga nggak tau mau ngapain di ujung jalan ini, gue juga nggak ngerti kenapa gue suka aja ke ujung jalan ini.”
     Aku menatapnya dengan heran.
     “Lo bawa apa sih setiap hari? Kayaknya bawa itu terus..” kata Raffa seraya menunjuk ke arah rantang yang lumayan besar di genggamanku.
     “Oh, ini? Saya jualan kue. Hitung-hitung untuk bantu ayah dan ibu cari uang.”
     “Penghasilannya berapa sehari?”
     “Memang tidak banyak, tetapi lumayan untuk di tabung..”
     “Sekarang masih ada? Atau udah laku semua?”
     “Masih, ini mau di jual lagi sampai habis.”
     “Mau dibantu??”
     Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
     Tidak kusangka bahwa orang yang selalu kutemui di ujung jalan itu adalah orang yang sangat baik. Dia dengan senang hati membantuku menjual seluruh dagangan ibu sampai benar-benar terjual habis tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun. Meski baru mengenalnya, aku percaya bahwa dia memang benar-benar orang yang baik.
     Tidak hanya sehari, tetapi setiap hari Raffa selalu membantuku untuk menjual dagangan ibu sampai terjual habis seperti hari-hari sebelumnya. Kami tidak banyak berbincang karena nampaknya Raffa adalah seseorang yang sangat pendiam. Sesekali aku mengajaknya untuk berbincang, dia hanya menjawab seputar apa yang sedang kutanyakan kepadanya tanpa basa-basi lebih lanjut.
     “Kenapa baik banget sama saya? Kita ‘kan baru kenal?” tanyaku.
     “Karena lo baik sama gue.”
     “Maksudnya?? Saya nggak ngerti sama maksud kamu.”
     Raffa tersenyum ke arahku, “Lo beda sama yang lain.”
     Aku menatapnya dengan raut wajah yang bingung.
     “Mau ‘kan jadi sahabat gue??” tanya Raffa.
     Aku membalas senyumannya, “Dengan senang hati, kenapa enggak??”
     Dari sanalah semua berawal. Aku dan Raffa mulai bersahabat, dan sejak saat itu pula Raffa mulai mencoba membuka dirinya terhadapku. Dia mulai menceritakan tentang hidupnya kepadaku.
     Raffa, seseorang yang terlahir dari sebuah keluarga yang berkecukupan, bahkan kaya raya. Tetapi dapat dikatakan bahwa hidupnya tak lebih beruntung dariku, yang hanyalah terlahir dalam sebuah keluarga sederhana yang saling menyayangi satu dan yang lainnya. Mengapa?? Raffa memang memiliki segalanya. Apapun yang ia inginkan, dapat segera dipenuhi dengan hartanya yang melimpah. Namun satu yang tidak di milikinya, sehingga ia menjadi seseorang yang sangat pendiam.
     Keluarga yang harmonis, adalah sesuatu yang tidak di milikinya. Orangtuanya selalu bertengkar di hadapannya. Tidak hanya sekali, namun hampir setiap hari. Inilah yang menyebabkan Raffa selalu berdiri di ujung jalan itu karena ia tidak betah berada di rumah yang menurutnya adalah neraka.
     Raffa selalu berdiri di ujung jalan itu bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Dia menginginkan seorang sahabat yang tulus kepadanya, bukan karena harta kekayaanya. Dia memang menunggu seseorang. Seseorang yang akan menyapanya, kemudian memahaminya, dan mampu menerimanya dengan apa adanya. Terdengar aneh, tetapi juga masuk akal.
     Kurangnya kasih sayang dari orangtua membuatnya sampai seperti ini. Sungguh tidak tega hatiku mendengar ceritanya. Tidak bisa kubayangkan, seandainya aku yang ada di posisinya. Dan ku harap itu tak akan pernah terjadi padaku.
     Raffa menerimaku apa adanya. Meski dia terlahir dari keluarga yang kaya raya, dia sangat menghargaiku dan juga keluargaku. Bahkan, dia tidak pernah segan untuk selalu membantuku. Aku mulai simpati terhadapnya, lalu mulai mengaguminya. Hingga kusadari, bahwa aku menyukainya.
     Aku tahu, tidak seharusnya rasa ini ada. Tidak sepantasnya aku memyukainya. Hingga pada suatu hari Raffa  berkata, “Perbedaan apapun nggak akan pernah berarti kalau hati sudah bicara. Percaya pada hatimu, maka itulah yang akan menuntunmu.”
     Ya, Raffa benar. Perbedaan sebesar apapun tidak akan pernah menjadi sebuah masalah dan penghalang jika hati sudah bicara. Ikutilah kata hatimu, maka itulah yang akan menuntunmu. Kusebut ini, cinta di ujung jalan..
   


TAMAT

created by : Ayuditha Aninda Putri

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal