Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Senin, 18 Juni 2012

Penantian Rahasia :)



            Rasanya..hidupku sangatlah hambar. Bagai sayur tanpa garam. Bagai malam, tanpa bintang yang menambah keindahan. Bagai...pesisir pantai tanpa ombak yang selalu mendekapnya. Ku kira seperti itulah kehidupanku bila digambarkan melalui kata-kata. Tidak terlalu menarik, tetapi tidak pula terlalu buruk. Hanya terkadang..bahkan sering kali aku bukanlah menjadi seseorang yang beruntung dalam kehidupanku sendiri. Maksudku, segala yang kuinginkan hampir tidak pernah terjadi, semua sangat bertolak-belakang dengan kenyataan yang ada. Ya..tetapi beginilah hidup. Manusia hanya bisa merencanakan tanpa tahu pasti apa yang nantinya akan didapatkan.
            Seperti halnya kehidupan, ‘cinta’ juga tidak dapat terjadi seperti apa yang kita inginkan. Bahkan, apa yang tidak pernah kita harapkan adalah apa yang memang sudah digariskan untuk ada di dalam kehidupan kita. Seperti apa yang kukatakan, aku pun sedang mengalami hal itu dalam hidupku. Mendambakan seseorang yang nampaknya tidak akan pernah mengharapkan kehadiranku dalam hidupnya. Apakah ini yang namanya ‘cinta’??? aku selalu teringat padanya yang belum tentu mengingatku. Aku selalu merindukannya yang mungkin tak pernah merindukanku. Bahkan..ku yakin  dirinya pun tak pernah sadar akan kehadiranku.
           
Tiba-tiba terdengar suara dibalik tubuhku yang membuatku menghentikan tulisanku. Suara itu tak lagi asing di telingaku.
“Ah, elo!! Ganggu gue aja, sih..” sahutku.
Dia tertawa sejenak seraya menatapku dengan tatapan yang sangat menjengkelkan, “Sorry, Prill..” “Ngambek…”
Aku terdiam dan menatapnya dengan wajah yang tidak sedap dipandang. Laki-laki yang kusebut ‘dia’ ini adalah Randy. Sahabat yang telah kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri karena kami sudah terbiasa bersama sejak kami masih berusia 7 tahun. Ya..sudah sekitar 9 tahun lah kemungkinan kami bersama. Kedua orangtua Randy sudah sangat mengenal aku dan keluarga dengan sangat baik. Kami tidak pernah terpisah sejak aku dan kedua orangtua menempati gubuk kecil yang tepat di sebelah rumah Randy.
“Ngambek terus, Prill. Gue nggak di maafin, nih??” tanya bocah menyebalkan itu.
“Maafin nggak ya…”
“Maafin, doong…..”
“IYA. DI MAAFIN!!!”
“Jutek banget, mba..” ucap Randy lagi seraya menjepit hidungku dengan jari-jarinya yang panjang. Tak hentinya Randy berhenti mengusiliku setiap hari, bahkan sampai setiap saat kami sedang bersama. Randy adalah pribadi yang sangat menyenangkan.
Di tengah pembicaraan antara aku dan Randy, tiba-tiba saja aku tertegun menatap sesuatu yang indah yang melintas di hadapan kedua mataku. Tanpa sadar jantungku berdegup dengan cepat ketika melihatnya, seorang anak kelas 11 yang pada kenyataannya mampu membuatku untuk selalu memperhatikannya. “Dia..manis banget, ya…” 
“Lo suka sama dia, Prill?!!!”, tanya Randy dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Karena masih terfokus pada Dani,  seseorang yang beberapa menit lalu melintas di hadapanku, aku seakan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Randy padaku.Hanya senyuman yang mampu terlukis di bibirku.
“Lo suka sama dia, Prill??!!”, Randy mengulang pertanyaannya.
“Kepo banget sih lo, Ren..”
“Gue cuma nanya. Apa itu salah??”
“Tapi nggak usah ketus gitu dong nanyanya! Kepo lo!!”, jawabku seraya pergi meninggalkan Randy di taman sekolah.
Entah apa yang sedang kufikirkan, tetapi aku begitu kesal terhadap pertanyaan Randy yang begitu menganggu privacy ku. Bukan hanya karena pertanyaannya, tetapi juga nada bicaranya yang membuatku semakin kesal padanya. “Apa haknya untuk bicara dengan nada tinggi seperti itu padaku?!!”

Keesokan harinya..

            Masih sedikit kesal dengan kejadian saat kemarin di taman, aku mengurungkan niatku untuk menyapa Randy yang tengah menyambut kehadiranku di sekolah ketika aku berada di depan pintu gerbang dan hendak melangkah ke dalam.
            “Pagi, Prilly.. makin cantik aja, ya..”
            “Apaan sih, lo..” jawabku ketus.
            “Lo masih marah sama gue??  Maafin gue, Prill..”
            Aku mengabaikan permintaan maafnya dan berlalu meninggalkannya.
            Sampai pada saat bel istirahat berbunyi, aku masih tak sedikitpun berniat untuk menghampiri bahkan berbincang seperti hari-hari biasanya dengan Randy. “Badmood !!!”
            “Sama siapa??” tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiriku.
            Aku menoleh ke samping tubuhku, “Ah? Umm…nggak kok, kak. Nggak badmood, kok. Kakak salah dengar mungkin.”
            “Yang bener, nih???”
            Aku semakin gugup dan canggung ketika memulai pembicaraan itu dengan seseorang yang sangat aku kagumi. DANI!!! Mimpi apa aku semalam?! Dihampiri oleh seseorang yang benar-benar membuatku tak dapat menghentikan keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuhku. Ini sangat diluar khayalanku!!!
            Tetapi.. disaat aku sedang merasakan indahnya kasmaran dan melayang jauh ke angkasa, aku terjatuh! Ya, aku terjatuh karena sayap cintaku patah ketika seorang gadis menghampiri Dani dan berkata “sayang” padanya. Gadis yang kumaksud adalah kekasih Dani. Rasanya..ingin kuhancurkan kantin sekolahku saat aku melihat kemesraan mereka di hadapanku.
            Aku berlari seraya menahan airmataku yang sesaat lagi akan mencapai puncaknya. Aku sangat ingin menceritakan hal ini pada Randy. Hanya ia yang paling mengerti perasaanku selama ini. Tetapi..kini aku kehilangannya. Randy mungkin sudah sangat membenciku yang telah sangat menyakiti perasaannya dengan sikapku yang tidak seharusnya kulakukan padanya.

            Tuhan, maafkan aku yang telah menyakiti perasaannya. Seharusnya, aku tidak berlaku sekasar itu padanya. Hanya karena seseorang yang nyatanya tidak pernah perduli terhadapku, aku berani mempertaruhkan persahabatanku dengan Randy..

            “Maafin gue, ren..” ucapku seraya menitikkan airmata.
            Kini aku sadar, ada seseorang yang ternyata selalu memperhatikan gerak-gerikku selama ini meskipun aku tak pernah memperdulikannya. Dan tiba-tiba saja Randy datang menghampiriku dan mengahapuskan airmataku dengan saputangannya.
            “Randy??”
            “Gue nggak suka liat lo nangis..”
            “Maafin gue ya, ren..”
            “Maaf untuk apa?? Lo nggak salah kok. Emang gue yang salah..”
           
            Tuhan.. apakah ini penantian rahasia yang akan Kau berikan untukku???

            “Gue…kehilangan lo, ren. Gue baru sadar sekarang, cuma lo satu-satunya orang yang selalu ada disaat apapun keadaan gue. Selalu pengertian, perhatian, dan sabar sama gue. Maafin gue ya, ren..”
            “Gue….sayang sama lo, Prill. Gue nggak mau lo sedih. Gue nggak mau lo nangis. Gue cuma mau lihat lo bahagia. Gue tau kok, lo pasti nggak mau ‘kan jadi pacar gue?? Jadi sahabat lo aja gue udah bahagia banget, Prill..”
            “Lo ngomong apaan sih?? Kata siapa gue nggak mau?? Umm…”
            “Jadi???”
            Aku hanya menganggukan kepala dan melempar senyum kearahnya.
           
            Tuhan memang adil. Meskipun apa yang kita inginkan tidak selalu sejalan dengan kenyataan yang ada, Tuhan selalu memberikan kita yang terbaik. Terbaik untuk kini dan masa depan. Jika seseorang yang kita inginkan memang bukan ditakdirkan untuk bersama kita, pasti akan ada seseorang yang lebih baik lagi untuk kita yang akan ditemukan oleh waktu yang masih akan terus berputar. Percayalah, yang terbaik akan selalu datang di akhir dan membawa kebahagiaan yang abadi..


Created by : Ayuditha Aninda Putri

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal