Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Senin, 18 Juni 2012

Dilema :)



Tuhan, kurasa aku sangat bersalah..
Meskipun tak ada kata terlambat, tetapi aku tahu bahwa aku sudah terlambat untuk memperbaiki segalanya. Aku tidak bisa membuatnya mengerti tentang apa yang telah kulakukan. Aku tidak mampu membuatnya memaafkan segala kesalahanku. Tetapi apakah ini tetap kesalahanku sepenuhnya??
Aku tak pernah meminta agar aku jatuh cinta padanya. Aku tak pernah menduga bahwa aku akan sangat menginginkannya. Aku tahu, aku memang salah. Mencintai seseorang yang telah memiliki seorang kekasih, apakah itu bukan sebuah kesalahan?? Ya, ya, ya.. Aku memang bodoh. Sungguh bodoh! Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, namun kenyataannya tak sejalan dengan apa yang kuperkirakan. Seharusnya aku tahu, aku tidak boleh membiarkan semuanya terjadi. Seharusnya aku sadar, ini tidak boleh terjadi padaku. Tetapi apa pula yang dapat kulakukan? Aku tidak mampu ‘tuk menahan rasa itu. Aku terjebak di dalam sebuah kesalahanku sendiri.
“Kamu nulis apa, sih? Serius banget..” Tanya seseorang dari balik tubuhku.
Aku menoleh melihatnya, “Aku cuma lagi…iseng aja, kok. Bukan nulis apa-apa.”
“Aku boleh lihat??”
“Bukan tulisan apa-apa kok ini.” Jawabku semakin gugup. Aku tidak mungkin memperlihatkan tulisanku yang berisi tentang perasaanku yang dilema antara aku, dirinya, dan Rezky, seseorang yang mampu memikat hatiku disaat aku telah memiliki seorang kekasih yang begitu menyayangiku.
Ya, aku memang telah memiliki seorang kekasih. Aku pun menyayanginya, bahkan aku sangat menyayanginya. Tetapi itu DULU sebelum semua ini terjadi. Sebelum aku terjebak didalam rumitnya cinta yang tidak berujung. Aku tidak pernah merencakan semua ini. Aku tidak pernah meminta agar aku mengkhianati cintanya. Mengkhianati seseorang yang tulus mencintaiku dan selalu menerima apapun kekuranganku, selalu ada di saat apapun keadaanku, tetapi aku justru menghancurkan perasaannya. Mengecewakannya bahkan sangat menyakitinya. Sungguh, aku tak pernah bermaksud atas semua yang terjadi. Aku hanya.....aku hanya tak mampu untuk menahan segala rasa yang ada di dalam hati kecilku. Aku tahu ini sangat tidak adil. Aku tahu ini semua memang salahku. Tetapi apa yang dapat kulakukan? Harus ku akui bahwa aku memang benar-benar telah dibuat jatuh hati olehnya. Seseorang yang tak sepatutnya ku cintai karena telah ada yang memilikinya.
“Din??”
“Apa?”
“Aku mau jujur tentang suatu hal. Tapi aku harap, kamu jangan marah sama aku..” “Maafin aku, din..” ucap laki-laki yang ada hadapanku.
“Ngomong aja..”
“Aku suka sama oranglain. Dia…adik kelas aku. Maaf, aku nggak bermaksud untuk nyakitin kamu. Tapi..aku juga nggak tau kenapa, aku selalu ngerasa nyaman disaat aku sama dia. Kamu semakin nggak memiliki waktu untuk aku. Maafin aku, din..” ungkap laki-laki itu kepadaku.
Ketika mendengar perkataannya, kurasa ini adalah saat yang tepat untukku mengatakan yang sesungguhnya tentang apa yang kurasakan saat ini. Tetapi..kurasa aku masih tak sanggup untuk mengatakannya. Ini sangat terasa sulit bagiku. Aku…aku tidak bisa untuk memaksakan kehendakku yang masih ingin merahasiakan segalanya.
“Kamu mau kita putus??” tanyaku perlahan.
“Aku nggak mau. Aku masih sayang sama kamu, din..”
Aku terdiam dan mulai berfikir. Jika ku teruskan hubungan ini, aku akan semakin terjebak dalam kesalahan yang sungguh membuatku gundah gulana tak menentu. Tetapi sungguh, aku pun sulit untuk melepaskannya.
“Aku mau kita putus. Aku rasa ini yang terbaik..”
“Tapi aku nggak mau, din..”
“Aku nggak bisa. Semoga bahagia, ya. Makasih untuk semuanya.” , ucapku seraya melangkah pergi meninggalkan Putra sendiri. Kuharap memang inilah keputusan yang paling terbaik. Setidaknya..kini aku dapat terbebas dari hubungan yang mengikat diriku dan dirinya.
Dan tentang Rezky, aku tidak pernah meminta rasa itu ada. Aku pun tak mengerti tentang apa yang terjadi antara aku dan dirinya. Aku hanya.....ya, sekedar mengaguminya karena sosoknya yang begitu istimewa. Siapa yang dapat menyangka bahwa aku akan jatuh cinta padanya? Kami hanya berteman. Ya, hanya sekedar teman biasa. Aku sangat-sangat mengaguminya hingga aku memintanya untuk mengizinkan diriku menganggapnya sebagai seorang "kakak". Hanya sekedar kakak yang akan menuntun seorang adiknya ke arah yang positif, apakah itu salah? Tentu tidak. Ya, letak kesalahanku adalah ketika dimana aku salah menempatkan posisinya dan segala kebaikannya padaku hingga aku mnyukainya. Hanya sekedar 'menyukainya', apakah itu sebuah kesalahan besar??
Akhirnya aku sadar, apa yang selama ini membuatku begitu melihatnya sebagai seseorang yang istimewa. Sosoknya membuatku teringat akan seseorang yang pernah hadir di dalam kehidupanku. Membawa sejuta harapan, tetapi pergi dengan meninggalkan sebuah luka yang mungkin sulit untuk dilupakan. Semua yang terjadi antara aku dan sosok itu adalah sama dengan apa yang terjadi antara aku dengan dirinya. Ya, ketika aku menyukainya, ku kira ini hanyalah sekedar bayangan tentang apa yang pernah terjadi sebelumnya padaku. Tetapi aku salah! Aku benar-benar menyukai sosoknya bahkan aku menyayanginya bukan karena ia adalah bayangan masa laluku. Dia berbeda. Dia tidak pernah sama dengan yang lainnya. Dan dia sangat istimewa. Hanya itu yang kutahu tentang dirinya. Aku sangat menyayanginya lebih dari seorang adik yang menyayangi kakaknya. Aku pun semakin terjatuh dalam lubang kesalahan.
Hanya dalam beberapa waktu singkat, aku kembali melakukan sebuah kesalahan yang membuatku semakin terjebak dalam lubang kesalahan itu. Aku menerima permintaan Putra untuk kembali memperbaiki hubungan yang sempat berakhir. Aku tidak pernah bermaksud dan berniatan buruk kepadanya. Aku hanya ingin mencoba melupakan Rezky dalam kehidupanku. Aku hanya ingin menghapus perasaanku pada Rezky. Ya, semuanya berjalan baik-baik saja sampai akhirnya terjadilah konflik yang begitu membuatku hampir putus asa.
Bodohnya aku membiarkan rasa itu terus berlanjut hingga akhirnya aku pun tak bisa melepaskannya walau ku tahu telah ada yang memilikinya. Akhirnya kembali kuputuskan untuk mengakhiri hubungan antara aku dengan seseorang yang telah tulus menyayangiku, Putra,  yang dikarenakan beberapa faktor dan perselisihan yang semakin sering terjadi antara kami.  Jahat sekali aku ini! Aku memang tak pantas untuk orang sebaik dirinya. Tetapi aku juga tak pantas untuk masih mengharapkan seseorang yang mungkin hanya menganggapku sebagai seorang adik untuknya.
Lelah dengan semua perasaan yang terus menekanku, aku memilih untuk menjauh darinya. Aku tak ingin dianggap pengganggu dalam hubungannya. Aku bahagia jika melihatnya bahagia walau tidak bersamaku. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Tetapi mengapa ia harus membalas perasaanku ketika dirinya tak mungkin memilihku? Mengapa dirinya tega membiarkanku terus berharap padanya? Aku sadar, aku tak mungkin memilikinya. Tetapi mengapa ia justru datang seolah memberi harapan itu padaku? Apakah ini salahku? Aku tak pernah memintanya untuk membalas perasaanku. Apakah ini yang dinamakan dengan "takdir"? Sampai pada akhirnya, aku sangat benar-benar di benci oleh kekasihnya yang tengah mengetahui tentang perasaanku padanya.
Aku tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan hubungan mereka. Lagipula, bukankah setiap orang memiliki hak yang sama? Dan bukankah seorang perempuan memang di takdirkan untuk dipilih oleh seorang laki-laki? Lantas masihkah ini menjadi salahku sepenuhnya bila pada akhirnya dirinya lebih memilihku untuk menjadi pendampingnya dan menggantikan posisi kekasihnya di hatinya? Ku kira tidak!
Belajarlah menerima kenyataan. Jika apa yang sudah digariskan oleh Tuhan untukmu, maka dengan cara apapun hal itu akan terjadi tanpa melihat apakah engkau menyukainya atau tidak ;)



Created by : Ayuditha Aninda Putri

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal