Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Jumat, 17 Agustus 2012

Maafkan Putri, Deva..

Aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan. Menikmati setiap saat kau tersenyum dan bahagia bersama seorang wanita pilihan di sampingmu. Aku memang seperti orang bodoh, tanpa hentinya kulakukan ini meskipun aku tahu ini hanya akan menyakitiku. Aku selalu berharap waktu akan merubah segalanya. Merubah keadaan yang saat ini terjadi hingga menjadi apa yang kuinginkan. Tapi aku sadar, aku ini bukan siapa-siapa, tak pantas aku berharap terlalu tinggi bila aku tak ingin terluka setelahnya. Ya..ya..ya sangat membosankan! Hidupku bagaikan padang gurun yang sepi, tiada kehidupan hanya aku seorang diri. Berdiri tanpa arah dan tujuan, hanya mampu berharap pada sesuatu yang tidak pasti terjadi. Atau bahkan..memang tidak akan pernah mungkin terjadi dalam kehidupanku yang kelam ini.

Cinta? Aku pernah memiliki cinta. Cinta yang sesaat dan hanya menimbulkan luka. Aku percaya bahwasannya setiap laki-laki tidak semuanya sama. Tapi kenapa aku harus selalu jatuh di dalam lubang kesalahan yang sama??? Mencintai seseorang yang salah. Mungkin aku terlalu bodoh hingga membiarkan diriku sendiri untuk selalu terjatuh dalam hal yang itu-itu saja. Aku tak ingin lagi mengenal cinta sejak saat menduduki bangku pendidikanku di perguruan tinggi negeri. Aku benar-benar ‘kapok’ dengan yang namanya jatuh cinta. Apa sih artinya cinta??? Cuma Ingin Nikmatin Tubuh Anda?? Persepsi bodoh yang dimiliki orang-orang tidak berakal tetapi semakin banyak yang melakukannya! AKU BENCI JATUH CINTA!!!

Aku tidak ingin lagi jatuh cinta, aku tidak ingin lagi sakit hati. Toh sebuah tulang rusuk dengan pemiliknya bukankah tidak akan pernah tertukar?? Aku hanya ingin hidup damai dan bahagia tanpa rasa sakit akibat sebuah ‘cinta’. Jika cinta itu hanya selalu membuatku merasakan sakit, untuk apa aku di anugrahi rasa itu?? Cinta itu bodoh! YA, itulah persepsiku sebelum aku mengenalnya. Seseorang yang kuakui mampu mengubah jalan pikiranku yang tertutup rapat untuk sebuah cinta.

Namanya Deva. Seorang anak laki-laki yang sebaya denganku dan tepat satu jurusan dengan diriku. Aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Bahkan untuk melihatnya sebelum di kampus ini saja aku tidak pernah. Tapi…dia memiliki pembawaan yang luar biasa! Maksudku, pribadinya sangatlah menarik sehingga aku pun tak kuasa untuk menahan rasaku yang ingin selalu berada di dekatnya. Apakah ini pertanda bahwa aku…………….
  

     “Ah, aku tidak pernah merasakan lagi bagaimana rasanya jatuh cinta pada seseorang setelah dua kali aku merasakan sakitnya ditinggalkan. Mungkin aku hanya sedikit tertarik pada sosoknya. Ya, mungkin ini bukan cinta.”

Aku bukanlah seseorang yang pandai dalam hal merangkai kata untuk berbohong atau berdusta tentang perasaanku sendiri. Hatiku terus berkata “ya” meskipun lidahku tak ingin mengatakannya. Tetapi bukan ini yang menjadi permasalahannya. Aku hanya takut untuk memulai rasa yang tidak seharusnya kulakukan terhadap seseorang yang memiliki pasangan. Aku tidak ingin membiarkan perasaan ini terlalu jauh pada Deva, tetapi kenapa ia justru seolah datang padaku dan membawa harapan itu??

Tepat pada hari sabtu saat sepulang kuliah, aku, Deva, dan teman berkumpul kami yang lainnya memutuskan untuk bermain sejenak di rumah Deva. Aku selalu mencoba untuk bersikap biasa setiap kali Deva mencoba memberiku sinyal hijau di setiap harinya, tetapi kesalahan besar yang sangat kusesali terjadi ketika aku hilang kendali saat menatap matanya dalam-dalam.
     
     “Aku numpang ke toilet dong, boleh? Dimana??” tanyaku pada Deva, sang pemilik rumah bak istana merdeka itu.
     “Yuk aku antar aja, nanti kamu malah bingung.”
     Aku hanya mengangguk dengan menahan rasa bahagia dalam hatiku.
    
Setibanya kami tepat di depan pintu kamar mandi yang di maksudnya, Deva justru mendaratkan kecupan manisnya tepat di bibirku secara perlahan. Sungguh, aku benar-benar terhanyut oleh perasaanku ketika menatap dalam matanya. Aku tidak mampu untuk menolak kecupan itu darinya.
     
     “Dev, nggak seharusnya kayak gini. Kamu punya…….” , ucapanku terhenti ketika jari telunjuknya menghalangi bibirku untuk berbicara.
       “Aku tau, kamu suka sama aku, kan?”
       Aku hanya tertunduk malu di depannya. “Tapi kamu punya………….”
       "Punya apa?? Pacar???”
       Aku hanya terdiam membisu mendengarnya.
     “Aku udah putus sama dia” Ucap Deva kepadaku. Entah apa yang kurasakan, semuanya terasa seperti mimpi. Tanpa berfikir panjang aku pun dengan begitu saja percaya padanya sehingga kami melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.

Setelah hari itu, Deva tiba-tiba saja menghilang tanpa sedikitpun kabar yang ditinggalkannya. Aku mulai panik dengan ketidakmunculan Deva yang sangat mendadak seperti ini. Sudah genap seminggu Deva benar-benar menghilang. Aku pun segera memutuskan untuk mengunjungi kediamannya yang tidak jauh dari kampus untuk mencari informasi tentang dirinya. Namun setibanya aku disana, tak sedikitpun aku melihat batang hidungnya. Hanya salah seorang pembantu rumah tangga yang ada disana.
    
     “Deva ada, bi??”
     “Mbak ini yang namanya Putri, bukan??”
     “Iya, kebetulan memang saya sendiri. Ada apa ya, mbak??”
     “Mas Deva hanya menitipkan ini pada bibi sebelum berangkat ke Inggris untuk ikut bersama orangtuanya. Silahkan di terima suratnya, mbak..”

Tanpa membuang waktu aku segera menerima sepucuk surat itu dan berlalu meninggalkan rumah Deva. Aku sudah tak sabar ingin tahu apa isi surat itu.

***

     Putri yang cantik, maafin Deva ya pergi nggak bilang-bilang dulu sama Putri. Deva terpaksa harus pergi sama orangtua Deva karena Deva harus menjalani pengobatan atas gagal ginjal yang semakin mengganggu Deva. Deva mau minta maaf, karena saat pertemuan terakhir kita, Deva bohong sama Putri tentang satu hal. Deva nggak pernah putus sama siapapun karena Deva nggak pernah pacaran sama siapapun. Kalau yang Putri kira pacar Deva itu adalah Silvy, Putri salah besar. Silvy adalah saudara sepupu Deva sendiri yang belum lama pindah ke Jakarta, makanya Silvy selalu minta Deva untuk menemani dia di kampus. Deva sayang sama Putri. Mungkin Putri lupa kalau Deva adalah teman kecil Putri yang selalu Putri sapa dengan sebutan “CHUBBY” karena Deva yang dulu gendut, jauh sama yang sekarang. Tapi perasaan sayang Deva untuk Putri nggak akan pernah berubah sampai kapanpun kok. Maafin Deva ya udah cium Putri di saat yang paling aneh dan nggak jelas gitu. Tapi kalau suatu saat nanti kita nggak bisa bertemu lagi, Deva berterimakasih banget sama Putri karena Deva udah di kasih kesempatan indah itu walau hanya sesaat. Deva sayang Putri kecil..

     “Ya Tuhan, jadi Deva adalah………………”
    
     Maafin Putri, Deva. Putri memang bodoh nggak bisa mengenali Deva teman kecil Putri yang selalu sayang sama Putri. Putri hanya sempat berfikir bahwa Deva nggak akan pernah kembali setelah kepindahan Deva dan keluarga ke Semarang. Maafin Putri yang nggak tahu tentang penyakit yang menimpa Deva. Maafin Putri, Deva. Putri akan selalu berdoa yang terbaik untuk Deva disana. Deva pasti sembuh kok. Putri akan terus nungguin Deva kembali ke Jakarta. Putri kecil sayang Deva chubby.
    Maafkan Putri, Deva..

JJJ

created by : Ayuditha Aninda Putri
 

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal