Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Sabtu, 10 November 2012

Raisa dan Malam-malam dalam hidupnya (1)


Nyatanya, menyekat airmata bukanlah hal yang mudah bagi Raisa, gadis berusia 16 tahun yang baru saja di khianati oleh seseorang yang telah menjadi separuh bagian dalam hidupnya. Seseorang yang selalu ia banggakan di hadapan teman-temannya. Sakit. Tentu perasaan itu yang kian menusuk-nusuk hatinya semenjak peristiwa malam itu.

Tersenyum dalam tangis. Atau tangis dalam sebuah senyuman. Raisa pun tidak mudah untuk melakukannya. Gadis mana yang dapat dengan mudah mengukir senyuman indah bila kebahagiaan pun mulai enggan menyentuh hidupnya yang selalu di guncang masalah. Tanpa henti. Dan selalu memaksa Raisa untuk menitikan airmatanya, walau ia tak pernah menginginkannya.

Raisa muak dengan pertengkaran orangtuanya yang selalu membuat telinganya bagaikan terbakar oleh ledakan-ledakan di bawah atap rumahnya yang sudah tak lagi hangat ketika usianya menginjak remaja.
Raisa memutuskan untuk mengambil kunci mobilnya dengan cepat dan lekas pergi untuk mencari udara segar di tengah malam yang sunyi. Mobilnya melaju dengan cepat ketika melintasi hamparan jalan yang sepi. Sulit bagi Raisa untuk melupakan bayang-bayang ibunya dan ayahnya yang selalu saja bertengkar hampir di setiap harinya.

Entah sejak kapan orangtua Raisa kehilangan rasa cinta diantara mereka. Hanya mengutamakan keinginan masing-masing yang sudah jelas selalu saja bertabrakan dan sulit untuk di satukan. Bukankah dulu mereka selalu sejalan? Lantas mengapa sekarang mereka tidak bisa menjadi seperti mereka yang dulu?

Nyaris mendekati kata perceraian. Raisa benar-benar tidak ingin orangtuanya berpisah, tapi, Raisa juga tidak ingin mendengar kata-kata kasar yang selalu ia dengar ketika peperangan itu terjadi di dalam rumahnya. Raisa pun nyaris putus asa. Rumah yang dulu selalu menyelimutinya dengan kehangatan yang mendalam, kini menjadi rumah yang penuh dengan amarah bahkan airmata. Tidak ada lagi kehangatan itu. Hampa. Kosong.

***

Raisa menghentikan mobilnya di sebuah parkiran café di pinggir jalan. Menenangkan hati dan pikirannya sejenak adalah hal yang sangat ingin Raisa lakukan. Menikmati segelas hot cappuccino kesukaannya dan membaca buku adalah salah satu cara Raisa untuk melupakan sebagian beban yang di letakan di pundaknya.

Dinginnya malam semakin merasuk ke dalam kulit lembut sang gadis. Raisa pun mengeratkan jaket yang melindungi tubuhnya sedari tadi untuk menghangatkan tubuhnya yang rapuh. Sesekali Raisa menyeruput minuman di atas mejanya yang tengah dingin karena cuaca malam itu.

Sepintas angin malam menyeretnya kembali pada ingatan yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam. Masa yang begitu sulit di lupakannya ketika ada pengkhianatan. Satu-satunya lelaki yang begitu di cintainya kini hadir lagi di depan kedua matanya. Laki-laki yang dulu menjadi separuh dari diri Raisa, memunculkan kembali batang hidungnya. Lengkap dengan luka lama yang di bawanya, dan senyuman indah yang selalu membuat Raisa tersenyum melihatnya. Raisa sangat menyukai senyuman di wajah lelaki yang berdiri di hadapannya.

“Sama siapa kesini?” Lelaki itu memulai sesi percakapan dengan Raisa.
“Sendiri. Lo?”
“Sama. Udah lama, ya?”
“Udah. Gue pulang duluan, ya.” Raisa yang tidak bisa berlama-lama menatap lelaki yang sungguh masih sangat di cintainya memilih untuk pergi sebelum airmatanya yang berusaha ia bendung tumpah begitu saja di depan lelaki berbadan besar dan berkulit putih yang memiliki bentuk tubuh nyaris sempurna bagaikan seorang model—Sam—mantan kekasih Raisa.

Sam mengikuti Raisa yang berjalan pergi ke arah parkiran mobil, sebelum Raisa masuk ke dalam mobilnya, Sam menarik tangan Raisa dan cepat membawa Raisa menyentuh dadanya yang bidang. Raisa tenggelam dalam dekapan tubuh Sam yang sangat di rindukannya. Tanpa sadar, airmata yang tengah di bendung Raisa pun pecah begitu saja ketika mereka saling berpeluk dalam dinginnya malam.

Akhirnya Raisa mendorong tubuh Sam yang masih memeluknya dengan hangat, “Kenapa, sih, lo harus balik lagi?! Lo nggak puas ngeliat gue sakit hati?! Belum cukup lo selingkuh sama wanita jalang itu, Sam?!!” Raisa tidak bisa menahan amarah yang kini memenuhi isi kepalanya. Raisa memukuli dada Sam dengan kepalan tangannya yang kecil dan bagaikan tak bertenaga.

Sam tidak peduli bagaimana Raisa berusaha memukulnya, ia kembali memeluk Raisa yang terus memberontak dalam pelukannya hingga Raisa lelah dan menyerah. “Maafin gue, Ra. Gue sadar, gue salah. Gue emang tolol banget pernah nyakitin lo. Gue mau kita kayak dulu, Ra. Gue sayang lo.”

Raisa masih terus menangis hingga membasahi permukaan baju yang di pakai Sam malam itu. Hanya sedikit mengangguk tanpa berkata sepatah katapun. Raisa kembali memupuk cintanya yang sempat di kuburnya dalam-dalam dengan segala bentuk kepahitan yang pernah menyentuh kehidupan asmaranya bersama Sam. Kali ini, Raisa benar-benar berharap bahwa Sam tidak akan pernah meninggalkanya lagi. Sendiri.


JJJ

 created by : Ayuditha Aninda Putri

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal