Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Sabtu, 10 November 2012

Raisa dan Malam-malam dalam hidupnya (2)


Beberapa malam setelahnya. Pertengkaran yang terjadi diantara orangtua Raisa semakin menjadi-jadi. Dan kali ini, fisik sudah mulai menjadi senjata dalam peperangan itu. Berbagai perabotan yang ada di dalam rumah berserakan dimana-mana. Jatuh dan pecah karena sengaja di lempar ke segala arah ketika pertengkaran itu terjadi. Dan mama, kini harus menjadi korban yang terluka karena benda tajam yang sengaja di goreskan di kulitnya yang melemah oleh papa yang semakin terlihat bak seorang monster jahat yang ingin menerkam mama.

Tuhan, apa yang sedang terjadi pada keluargaku? Haruskah perceraian yang menjadi jalan keluarnya? Haruskah mereka di pisahkan agar tidak lagi saling menyakiti?Aku juga terluka, Tuhan. Kemana cinta yang dulu ada diantara mereka?

Raisa memeluk mama dengan seluruh kasih sayang yang ingin di tunjukannya untuk melindungi wanita yang sangat di cintainya. Betapa teriris hati Raisa melihat setiap tetesan yang jatuh dari pelupuk mata malaikat hidupnya. Bagaimanapun Raisa menghapus airmata mama, Raisa tahu, ia tidak akan pernah bisa menghapus luka yang telah tergurat dalam di hati mamanya.


Kini Raisa sadar, hati kecilnya sangat ingin mengakhiri penderitaan mamanya. Hati nuraninya sangat ingin kedua orangtuanya berpisah. Bukan karena alasan apapun, tapi hanya karena Raisa ingin masing-masing orangtuanya hidup bahagia seperti semula dan tidak saling menyakiti lagi. Meski terpisah. Meski sungguh menyakitkan. Mau tidak mau, hanya itulah jalan terbaik bagi Raisa dan keluarganya.

Malam itu, Raisa dan mamanya sibuk membicarakan hal yang akan menjadi keputusan keduanya dari hati ke hati. Sesuatu yang nantinya akan mengubah hidupnya dan juga mamanya secara keseluruhan. Kertas putih. Lembaran baru. Tinta kedamaian. Dan tanpa seorang papa sebagai kepala rumah tangga. Raisa harus berpikir dewasa. Raisa harus siap menerima semua perubahan yang akan terjadi dalam hidupnya.

Sepanjang malam Raisa tidak henti menitikan airmata. Merenungi semua yang telah terjadi di dalam hidupnya. Setiap malam-malam yang selalu memberikan tinta berbeda pada hidup Raisa. Ini adalah masa-masa sulit baginya. Tapi setidaknya, Raisa sudah kembali merengkuh pujaan hatinya yang sempat pergi meninggalkannya. Raisa merasa sedikit memiliki kekuatan dalam menghadapi masalah yang ada di tengah keluarganya, bersama Sam.

***

Malam berikutnya, Raisa kembali menyetir mobilnya menelusuri jalan menuju café yang biasa di datanginya. Tanpa sengaja sepasang bola mata Raisa tertuju pada plat nomor kendaraan yang melaju berlawanan arah dengannya. Raisa sangat mengenal angka yang tertera pada plat nomor mobil tersebut. Tidak salah lagi, Raisa yakin itu adalah mobil milik Sam.

Sepintas Raisa sangat ingin mengikuti kemana Sam akan pergi larut malam kala itu, sedangkan Raisa tahu bahwa arah yang di tuju oleh Sam bukanlah arah rumah Sam. Lantas kemana Sam akan pergi?

Raisa segera memutarbalikan mobilnya dan melaju dengan cepat menyusul mobil Sam. Tapi sayang, sesuatu yang tidak pernah di inginkannya terjadi begitu saja di hadapan kedua matanya yang jelas-jelas menyaksikan bagaimana sebuah truk besar menabrak mobil Sam dari sebelah kanan. Raisa berhenti mendadak. Jantungnya seolah ikut berhenti berdetak ketika melihat peristiwa malam itu. Sontak Raisa berteriak sekeras mungkin saat mobil Sam terpental dan hancur. Airmatanya benar-benar mengalir dengan derasnya.

Tubuh Raisa bagaikan tak bernyawa. Lemas seketika tanpa bisa berkata. Setidaknya, Raisa masih sanggup untuk menekan nomor di ponselnya dan segera menghubungi polisi agar cepat datang ke lokasi kejadian. Tak lupa Raisa pun segera menekan nomor rumah sakit terdekat untuk cepat membawa mobil ambulance. Selebihnya, Raisa benar-benar tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya menuju mobil yang tengah hancur tertabrak oleh truk besar itu.

Raisa mencoba menguatkan hatinya sebisa mungkin. Mencoba tegar dan melangkahkan kaki keluar dari mobilnya untuk menghampiri mobil Sam yang berjarak lumayan jauh dari tempatnya saat ini.

Deg. Jantungnya lagi-lagi seolah berhenti seperti sesaat yang lalu. Saat mobil Sam tertabrak truk besar, dan kini mobil itu meledak. Terbakar. Raisa tidak ingin percaya dengan apa yang di lihatnya, ia berkali-kali memukul stir mobilnya untuk memastikan mimpi buruk yang kini ada di depan matanya. Miris. Terlalu sakit Raisa menyaksikan peristiwa yang menimpa Sam, satu-satunya lelaki yang sangat di cintainya. Raisa sungguh tidak ingin membenarkan apa yang di lihat jelas oleh kedua matanya. Raisa segera membuka pintu mobilnya dan hendak berlari ke arah lokasi kejadian. Namun, tangan seseorang meraih Raisa dan menahan langkahnya.

Ternyata para polisi sudah datang. Dan salah satu polisi bertubuh besar dan tinggi menahan Raisa untuk tidak pergi ke lokasi kejadian karena masih sangat berbahaya. Para pasukan pemadam kebakaran yang baru saja tiba langsung menyiram lokasi kejadian yang masih menyisakan api besar. Padam. Lenyap. Semuanya.

JJJ

created by : Ayuditha Aninda Putri
 

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal