Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Senin, 14 Juli 2014

Senja Hati #JCDD



Semuanya terasa begitu nyata. Luka yang tak pernah kunjung mereda, atau bahkan malah semakin melebar. Butiran airmata yang mulai mengering, isak tangis yang mulai menghilang, tak juga mampu menutupi luka yang terlanjur memadat. Luka yang ku kira akan membekas entah sampai kapan. Ini bukan luka yang baru. Ini luka yang selalu berusaha ku tutupi rapat-rapat, ku sembunyikan agar tak satupun orang yang tahu tentang luka ini. Topeng ini sudah semakin tebal untuk menutupi kemunafikan yang ada pada diri ini. Pada ketidakmampuan hati untuk menunjukan yang sesungguhnya pada mereka. Mereka yang hanya bisa bicara, tapi tak mau mendengar. Mereka yang hanya ingin tahu, tapi tak mau mengerti. Mereka yang hanya ingin bahagia, tapi tak ingin ikut merasakan luka. Tadinya, ku kira ini semua hanyalah mimpi. Sebuah mimpi buruk yang tak pernah ingin ku nikmati. Ini lebih buruk dari mimpi yang lainnya. Terlalu buruk hingga aku sangat ingin berlari, bahkan melompat keluar dari mimpi itu sekarang juga. Aku ingin berlari secepat mungkin, berlari menghindari kenyataan yang tak hanya sebatas mimpi. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin. Sejauh mata ini tak bisa lagi menatap bola matanya yang teduh. Sejauh telinga ini tak bisa lagi mendengar bisik lembut suaranya yang tenang. Sejauh hati ini tak bisa lagi mengeja namanya secara sempurna. Ah, aku tak mungkin bisa melakukan semua itu menjadi nyata.
Sungguh, nama itu masih melekat jelas disana, di tempat yang telah di tinggalkannya beberapa bulan yang lalu—hatiku. Siluet indah senyumnya masih tersimpan disana, di tempat yang nyaris di penuhi debu-debu kerinduan yang semakin menggumpal—ingatanku. Aku memilih diam di balik kepalsuan ini. Karena hanya dalam diamku, aku bisa berjarak sedekat ini dengannya. Aku masih bisa menatap senyumnya yang tak lagi sama. Iya, tak lagi sama seperti saat kita masih bersama. Senyuman paling indah dari bibirmu yang tak lagi kumiliki. Aku bahkan tak berhak untuk memintanya. Semuanya telah jauh berbeda. Karena kita sudah memilih arah yang berbeda saat di persimpangan yang lalu. Tidak, bukan kita, tetapi kamu. Kamu yang memilih jalanmu sendiri. Dan aku, hanyalah wanita yang berusaha menyeimbangi pilihanmu. Berusaha menelan sakit yang tak pernah kau tahu. Apakah aku tak pernah pantas untuk kau perjuangkan?

Minggu, 13 Juli 2014

Sepatu - #JCDD




Freya
Tangisku baru saja mengering saat kulihat nama Nadia tertera pada layar ponselku, panggilan masuk. Hari ini aku sedang tidak bersemangat melakukan apapun. Luka yang masih basah begitu terasa menyayat perlahan-lahan. Hati ini masih terlalu sakit mengingat kejadian malam tadi, saat laki-laki brengsek itu memilih untuk mengakhiri hubungannya denganku. Aku bahkan tahu bahwa hal ini pasti terjadi, tetapi bagaimana mungkin hubungan yang kian terjalin selama bertahun-tahun harus berakhir di tengah jalan hanya karena sesuatu yang tidak sepantasnya menjadi perdebatan. Bukankah rasa cinta mampu mengalahkan segalanya? Aku benci mengatakannya, aku benci mengingat semua kenangan yang kini hanyalah butiran pasir yang bahkan tak dapat ku genggam erat-erat. Ya, semakin ku gengggam erat justru akan semakin lepas. Semakin ku renggangkan justru akan semakin utuh. Semua tentangnya masih melekat jelas dalam memori ini, entah sampai kapan aku akan mengingatnya. Entah sampai aku bisa mempertahankan perasaan ini padanya. Entah sampai kapan ku selipkan namanya dalam setiap doa. Entah sampai kapan aku bisa mencintainya diam-diam. Entah sampai kapan aku mampu menahan sakitnya luka ini. Berusaha sekuat mungkin menutupi luka yang tak pernah benar-benar kering.

Nadia
“Frey, ayo dong angkat telfonnya! Gue khawatir sama lo!”
Aku tahu bagaimana rasanya di khianati. Mencintai seseorang yang akhirnya menyakiti. Freya adalah sahabat terdekatku, kami selalu menghabiskan waktu bersama hampir di setiap harinya. Malam tadi Freya menghubungiku, suaranya terdengar parau, isak tangisnya jelas menggambarkan kesedihan hatinya. Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya saat itu juga. Ingin rasanya aku menghapus tangis yang membasahi pipi merahnya. Ingin rasanya ku tampar laki-laki brengsek itu yang tega mengkhianati ketulusan Freya dan cinta putihnya. Aku dan Freya sudah bertahun-tahun hidup bersama. Berbagi tawa, suka, riang, canda ataupun kesedihan semacam ini. Galau akibat putus cinta atau gagal dalam ujian. Tetapi aku tahu bahwa kesedihan yang dirasakan Freya saat ini adalah kesedihannya yang terdalam. Dia sangat mencintai pria itu, apapun alasannya Freya tidak pernah ingin berpaling apalagi sampai mengakhiri hubungannya, aku tahu perasaan Freya saat ini. Betapa sakitnya terkhianati cinta yang selalu ia jaga. Karena tak ada yang lebih menyakitkan dari pada di sakiti saat mencintai; ditinggalkan.

Ammar
Aku mencintai seseorang yang ada di dekatku. Seseorang yang selalu membuatku bertanya-tanya, bolehkah aku mencintainya? Pantaskah aku untuk mendekatinya? Makhluk Tuhan yang nyaris sempurna. Aku mengaguminya tanpa seorangpun yang tahu. Ya, hanya aku dan Tuhan yang mengerti perasaan ini. Perasaan yang sulit kupahami. Aku hanya laki-laki bodoh yang tak mengerti tentang cinta, yang selalu merelakan perasaannya terabaikan walau sangat menyakitkan. Entahlah, bagiku itu adalah arti mencintai yang sesungguhnya. Dan bagiku, lebih menyakitkan melihat seseorang yang aku cintai menitikan airmata dari pada perasaanku sendiri. Aku memang terlalu munafik, tetapi aku berusaha menikmati kemunafikan ini yang seringkali menyesakan dada. Menyakitkan.

Dalam Diam #JCDD


Malam ini langit tampak lebih bermuram durja dari biasanya, seperti malam empat tahun yang lalu ketika aku menunggu seseorang dengan perasaan yang tak lagi sama. Saat dia mengabariku lewat ponselnya dengan suaranya yang lembut menyapa gendang telinga. Aku tahu saat itu dia tampak sedang kebingungan, bingung mencari alamat rumahku yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu usiaku masih delapan belas tahun, kami memang seumuran, hanya terbentang jarak sembilan bulan perbedaan usia kami. Kaus Bilabonk hitam yang di kenakannya tak terlalu nampak di tengah kegelapan, serupa dengan jeans biru dongker yang menyelimuti kakinya. Sedangkan jaket kulit kecokelatan ikut membungkus tubuhnya dari dinginnya udara. Di tangan kirinya melingkar jam tangan dengan brand ternama namun tampak sederhana. Rambutnya hitam legam, sedikit acak-acakan, agak panjang namun tidak menyentuh kerah bajunya. Berbelah tepi dengan sedikit poni tipis bermodel shaggy. Matanya yang bulat, bening, dan menimbulkan kesan dalam serta damai itu tak pernah membuatku lupa akan sinar matanya sejak pertama kali bertemu dengannya. Hidungnya tak terlalu mancung dan senyumnya yang manis itu selalu membuatku ingin menatapnya tanpa jeda. Sungguh, potretnya terlihat sempurna bagai pahatan jemari Tuhan yang terindah di mataku. Dia, dalam kesederhanaannya—terlihat menarik.
Aku, wanita kelahiran Jakarta ini, hanya bisa membalas senyumannya dengan anggukan lemah saat dia menyapaku untuk meyakinkan dirinya bahwa memang akulah seseorang yang menunggunya sejak tadi. Akulah orang yang berbicara dengannya lewat ponsel nyaris setiap malam. Akulah orang yang selalu diam-diam menyelipkan namanya dalam setiap doa.
Aku, yang waktu itu baru saja putus cinta, tak sengaja mengenalnya lewat sosial media. Aku mengenalnya lewat Andi, yang saat itu masih berstatus sebagai kekasihku. Dia memang sahabat Andi, namun aku tak pernah bertemu dengannya karena memang jarak rumahnya yang cukup jauh dan kami tidak berada dalam satu perguruan tinggi yang sama. Pertama kali mengenalnya, aku hanya ingin membagi kisah pilu yang selalu kusimpan sendiri. Kisah sedih yang menyiksa hati ini saat Andi memilih untuk meninggalkanku dan pergi bersama wanita yang lain. Hubungan yang berjalan hampir menyentuh angka dua tahun itu akhirnya harus terpaksa berhenti karena wanita jalang itu. Aku benci mengingatnya. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada ditinggalkan ketika dalam keadaan cinta-cintanya. Bahkan tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku bahwa Andi tega melakukan itu padaku. Aku nyaris putus asa. Aku merasa sangat bodoh karena terlalu melabuhkan hatiku seutuhnya pada pria yang salah. Hingga suatu saat aku mengenal dia yang bersedia menampung segala beban dan rasa sakit yang kian menggores luka.
 

anindaaputri Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal