Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Minggu, 13 Juli 2014

Dalam Diam #JCDD


Malam ini langit tampak lebih bermuram durja dari biasanya, seperti malam empat tahun yang lalu ketika aku menunggu seseorang dengan perasaan yang tak lagi sama. Saat dia mengabariku lewat ponselnya dengan suaranya yang lembut menyapa gendang telinga. Aku tahu saat itu dia tampak sedang kebingungan, bingung mencari alamat rumahku yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu usiaku masih delapan belas tahun, kami memang seumuran, hanya terbentang jarak sembilan bulan perbedaan usia kami. Kaus Bilabonk hitam yang di kenakannya tak terlalu nampak di tengah kegelapan, serupa dengan jeans biru dongker yang menyelimuti kakinya. Sedangkan jaket kulit kecokelatan ikut membungkus tubuhnya dari dinginnya udara. Di tangan kirinya melingkar jam tangan dengan brand ternama namun tampak sederhana. Rambutnya hitam legam, sedikit acak-acakan, agak panjang namun tidak menyentuh kerah bajunya. Berbelah tepi dengan sedikit poni tipis bermodel shaggy. Matanya yang bulat, bening, dan menimbulkan kesan dalam serta damai itu tak pernah membuatku lupa akan sinar matanya sejak pertama kali bertemu dengannya. Hidungnya tak terlalu mancung dan senyumnya yang manis itu selalu membuatku ingin menatapnya tanpa jeda. Sungguh, potretnya terlihat sempurna bagai pahatan jemari Tuhan yang terindah di mataku. Dia, dalam kesederhanaannya—terlihat menarik.
Aku, wanita kelahiran Jakarta ini, hanya bisa membalas senyumannya dengan anggukan lemah saat dia menyapaku untuk meyakinkan dirinya bahwa memang akulah seseorang yang menunggunya sejak tadi. Akulah orang yang berbicara dengannya lewat ponsel nyaris setiap malam. Akulah orang yang selalu diam-diam menyelipkan namanya dalam setiap doa.
Aku, yang waktu itu baru saja putus cinta, tak sengaja mengenalnya lewat sosial media. Aku mengenalnya lewat Andi, yang saat itu masih berstatus sebagai kekasihku. Dia memang sahabat Andi, namun aku tak pernah bertemu dengannya karena memang jarak rumahnya yang cukup jauh dan kami tidak berada dalam satu perguruan tinggi yang sama. Pertama kali mengenalnya, aku hanya ingin membagi kisah pilu yang selalu kusimpan sendiri. Kisah sedih yang menyiksa hati ini saat Andi memilih untuk meninggalkanku dan pergi bersama wanita yang lain. Hubungan yang berjalan hampir menyentuh angka dua tahun itu akhirnya harus terpaksa berhenti karena wanita jalang itu. Aku benci mengingatnya. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada ditinggalkan ketika dalam keadaan cinta-cintanya. Bahkan tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku bahwa Andi tega melakukan itu padaku. Aku nyaris putus asa. Aku merasa sangat bodoh karena terlalu melabuhkan hatiku seutuhnya pada pria yang salah. Hingga suatu saat aku mengenal dia yang bersedia menampung segala beban dan rasa sakit yang kian menggores luka.



Sejak hari itu, kami punya hubungan yang cukup dekat. Dia kerap mengabariku bahkan hanya untuk sekedar mengetahui keadaanku. Perhatiannya tak pernah luput dari memori ingatanku. Akhirnya aku tahu dia mulai menganggapku sebagai seorang adik yang membutuhkan kasih sayang. Hari berganti minggu, kepingan-kepingan yang hancur kini mulai kutata kembali. Kehadirannya memacuku untuk terus mengembalikan hidupku yang dulu dan merangkai hari dengan senyuman yang baru. Dia mendorongku untuk selalu melakukan yang terbaik dalam hidup tanpa kenal kata putus asa.
Kali ini, sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang baru saja datang ke meja, kami memulai percakapan cukup hangat. Pertemuan pertama yang selalu kutunggu sejak saat aku mengenalnya cukup membuat jantung ini berdebar nyaris tanpa jeda. Ah, siluet indah wajahnya membuatku tak bisa berhenti menyunggingkan senyum paling manis dari bibirku. Entah mengapa aku begitu mengaguminya. Sosoknya yang tenang dan pemikirannya yang dewasa menanamkan benih yang lain di dalam hati ini. Matanya yang teduh adalah tempat yang selalu membuatku ingin membenamkan keluh kesahku disana. Rasa kantukku saja berangsur hilang setiap kali kutatap matanya yang kecokelatan. Namun, tatapan matanya yang tajam selalu membuat dadaku terasa sesak dengan gejolak rasa yang sulit untuk kupahami.
“Lalu bagaimana hubunganmu dengan Andi?” Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulutnya yang sedikit lebih tipis. Aku masih sibuk mengunyah saat dia menanyakan perihal pria yang tak ingin lagi kusebut namanya.
Aku menghela napas sejenak sembari menata amarahku yang tiba-tiba saja muncul ketika nama Andi disebut. “Entahlah. Kami ibarat musuh yang tak lagi ingin saling mengenal. Aku sudah nggak peduli lagi sama dia, Mas. Mau dia jungkir balik aku sudah nggak mau lagi mengenalnya.”
“Jangan begitu, Dik. Bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian dari hari-harimu. Dia juga pernah menjadi alasan dibalik setiap senyumanmu ‘kan?”
“Ya, dan dia pula yang menjadi alasan setiap tangis yang jatuh dari kedua mataku. Sudahlah, Mas, aku sudah muak mendengar segala tentangnya,” ucapku hilang selera. Entah mengapa aku benar-benar membencinya saat ini. Seperti tak pernah ada cinta antara aku dan Andi sebelumnya. Mengapa kamu nggak pernah memulai cerita tentang kita, Mas?
Malam sudah semakin larut, dia mengantarku pulang walau sesungguhnya aku masih ingin terus bersamanya. Sepanjang jalan aku bertanya-tanya, inikah yang namanya cinta? Inikah rasanya jatuh cinta diam-diam?  Perasaan ini semakin sulit kupahami, meskipun kusadari ada satu alasan yang membuat khayalan ini tak mungkin terjadi.
***
Kahitna terdengar kembali mengalun nada indah lewat lagunya “Cinta Sendiri”. Ini lagu yang selalu kudengarkan setiap harinya, berkali-kali ku ulang hampir setiap jam. Aku yang selalu bertanya-tanya tentang rasa yang tumbuh semakin besar dalam hati ini. Aku yang selalu bimbang dengan kenyataan yang tak pernah selaras dengan keinginanku. Aku yang selalu meragu namun tak pernah bisa menyingkirkan rasa rindu yang kian bergejolak setiap kali aku mengingatnya. Aku selalu memikirkan dia, bahkan ketika aku menatap ke langit malam yang masih sama hingga aku membuka mata tuk menyambut hangatnya mentari. Wajah pria itu selalu muncul tanpa diminta, bisik lembut nyanyiannya di telingaku lewat ponsel selalu menyelimuti kala aku sedang terlelap dalam tidurku. Hampir setiap malam, ya, setiap malam.
Kejadian itu, dua tahun yang lalu, aku ingat ketika dia menyanyikan sebuah lagu melalui ponselnya tanpa perduli biaya yang harus dihabiskannya karena perbedaan operator antara kami. Dia memanggil namaku dan memintaku untuk mendengarkan lagunya ketika mataku hampir tertutup karena rasa kantuk yang mulai menguasa diri.
Ah! Aku menggerutu lebih keras lagi, ada rasa sesak dalam dadaku yang semakin menggurat perih. Tiga bulan semenjak dia semakin sibuk dengan urusannya dan jarang menghubungiku. Aku mulai merasa kesepian. Meskipun aku selalu punya waktu untuk sahabat-sahabatku, ada bagian kosong dalam hati ini yang terasa begitu hampa, dan sangat nyata. Setiap hari, aku selalu berdoa, aku selalu meminta pada Tuhan agar pria itu datang dan kembali mengisi ruang kosong yang bahkan tak pernah sekalipun terisi oleh oranglain. Tempat itu miliknya. Ya, orang yang selalu diam-diam kusebut namanya setiap jantung ini berdetak.
Waktu itu, bulan Januari, tepatnya awal tahun ketika dia menawarkan harinya untuk dilalui bersamaku. Hanya bersamaku. Perjalanan yang sederhana namun terkesan begitu menyenangkan. Kami hanya pergi ke beberapa taman kota, sekedar duduk-duduk diatas rerumputan hijau yang baunya menenangkan, dan membeli es krim berdua. Kami menghabiskan waktu hanya untuk berbagi cerita dan saling menorehkan kebahagiaan, seolah menghapus luka yang sesungguhnya tak pernah benar-benar tertutup seutuhnya. Luka yang tercipta saat aku tahu satu kenyataan yang juga menjadi alasan mengapa khayalan itu tak akan pernah bisa terjadi. Dia tak pernah sendiri, dia tak pernah kesepian, ada wanita yang tengah mengisi celah kosong dalam hatinya. Bukan, wanita itu bukan aku. Aku hanyalah wanita yang berharap menjadi satu-satunya namun tak pernah demikian. Aku hanya wanita baru yang berharap dapat menjadi bagian dalam kisah cintanya. Aku hanya wanita yang berharap menjadi pelabuhan hatinya.
Beberapa kali dia menceritakan perihal gadis yang ada dihatinya, dan saat itu pula aku harus menahan sakit dan sesak yang kututupi dengan sebuah senyuman. Senyuman yang bahkan hanya menambah luka karena harus menutupi perasaanku yang sesungguhnya. Ya Tuhan, mengapa sangat sulit menerima kenyataan yang ada bahwa bukan aku gadis yang mendiami hatinya?
“Kamu sendiri sudah niat nyari cowok baru?” tanyanya diikuti seulas senyum tipis dari bibirnya. Aku bahkan tak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan kalimat seperti apa. Terlalu sakit.
“Belum ada pikiran kesitu, Mas,” jawabku singkat.
“Kenapa?”
“Sebenarnya saat ini aku memang menyukai seseorang, Mas. Bahkan aku menyayanginya tanpa orang itu tahu,” aku menghentikan kalimatku. Aku tidak tahu apakah ini hal yang bodoh atau justru inilah satu-satunya cara yang dapat kulakukan untuk menyadarkannya tentang perasaanku.
“Oh, ya? Lalu kenapa kamu nggak mengungkapkan perasaanmu itu? Sepertinya dia laki-laki yang beruntung karena di sayangi oleh adik Mas yang satu ini,” ucapnya yang selalu diakhiri dengan senyuman.
Entah mengapa senyuman itu malah terasa menyesakan dada, bagiku.
“Mencintai tanpa mengungkapkan sama saja mengayuh tanpa hasil. Semuanya akan terasa sia-sia, Dik. Kalau menurut Mas ya lebih baik diungkapkan. Lagipula kamu nggak akan pernah tahu bagaimana perasaan dia padamu sebelum kamu mengatakannya ‘kan?” ucapnya panjang lebar tanpa tahu bagaimana sakitnya hati ini. “Kamu gengsi karena kamu adalah perempuan?” lanjutnya meledekku.
“Yang kita bicarakan saat ini adalah soal hati, Mas. Semuanya butuh pertimbangan. Lagipula, sudah nggak ada tempat lagi di hatinya untukku. Ada gadis beruntung yang sudah mendiami hatinya, Mas. Aku bisa apa?” tangisku hampir tak dapat kubendung.
“Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini selagi kita mau berusaha untuk merubah keadaan. ,Mas nggak menyuruhmu untuk merusak hubungan mereka, Mas hanya menyarankan agar kamu melepaskan beban yang ada di hatimu itu,” katanya dengan untaian kalimat yang terdengar bijak.
Apakah dengan begitu aku juga mampu merubah keadaan antara kita, Mas? Merubah keadaan dan menghapus kata ‘dia’ antara kita?
Satu hentakan kecil dan entah bagaimana tubuhnya sudah ada di dekatku. Tubuhku melekat di lengannya. Kusandarkan kepalaku di bahunya namun aku tak sanggup membalas rengkuhan itu. Aku takut tak bisa menyembunyikan debaran jantung yang semakin cepat ketika kami berjarak sedekat ini. Aku bisa mendengar helaan napasnya dengan jelas, aku bisa merasakan aroma kayu manis dari tubuhnya. “Keluarkan saja semuanya, Dik. Kalau memang ingin menangis, menangislah. Mas mu ini akan selalu meluangkan waktunya untukmu.”
Kali ini kurasakan jemarinya membelai halus rambutku. Tangisku mulai pecah dan membasahi kaus yang di kenakannya. Rintik hujan yang perlahan turun pun memaksa kami untuk berteduh. Dia mengusap tangisku dan menggenggam erat jemariku, seolah menarik tubuhku untuk segera mencari tempat berlindung. Ada sepintas kehangatan dalam genggaman jemarinya yang tak ingin kulepaskan.
Hujan selalu membawa kenangan, namun tidak kali ini. Hujan sedang menjadi pengukir kenangan antara kami yang akan kusimpan sampai nanti. Aku masih mendengar gemercik merdu nyanyian hujan yang tak kunjung mereda. Tubuhku mulai menggigil karena kaus yang ku kenakan tak cukup membendung dinginnya udara yang berhembus seolah saling bersaut.
Lagi-lagi tubuhku melekat erat di tubuhnya. Tak sedikitpun ada yang berubah dari getaran hebat yang sedari tadi kurasakan. Sakitnya pun semakin sulit ku jelaskan. Tangisku malah semakin deras, mengalahkan riuhnya air hujan yang turun, mengalahkan suara petir yang seolah menegur keras perasaanku.
“Mas ada disini untuk kamu, Dik. Kamu boleh menganggap Mas ini sebagai laki-laki yang kamu cintai itu.”
Aku bahkan tak sanggup menjawab apapun.
“Berhentilah menangis, Dik. Mas sayang sama kamu. Mas nggak mau adik Mas menangis apalagi karena seseorang yang tak pantas untuk ditangisi.”
“Aku sayang banget sama dia, Mas,” ucapku lirih tanpa ada kata yang sanggup kukatakan untuk meneruskan kalimatnya.
Rasanya aku ingin mengamuk. Aku ingin meledak setelah sekian letupan hati ini tak pernah terbalaskan. Aku selalu membasahi hatiku dengan airmata yang bahkan tak kasat mata sesekali. Namun, aku masih sanggup menahan diri, masih bisa berakting sempurna seolah-olah sedang melakukan pentas diatas panggung sandiwara yang pada kenyataannya sangat menyakiti hatiku, melukai hingga mencabik-cabik perasaanku.
Kamu sayang sama aku, Mas. Kamu sayang sama aku sebagai seorang adik, sedangkan aku? Aku menyayangimu lebih dari seorang adik. Dan kamu nggak pernah sadar itu.
***
Dua bulan kemudian, dia kembali ke Jakarta. Aku mengetuk pintu rumahnya. Dibalik pintu, sosok yang dulu selalu tampak rapi kini terlihat lebih berantakan. Dia tak menjawab sapaan, hanya membukakan pintu dan membiarkanku masuk ke dalam rumahnya. Aku disambut asbak-asbak penuh puntung rokok yang terletak nyaris disetiap sudut ruangan.
Tanganku menepuk-nepuk bahunya. Aku hanya ingin mendengar dia bicara, aku hanya ingin tahu seberapa parah lukanya saat ini? Apakah separah dan sesakit luka yang seringkali kurasakan? Apakah sesakit luka yang selalu kutahan?
“Sejak kapan kamu merokok, Mas? Sejak kamu tinggal di Solo?”
Aku tak habis pikir dengan kehidupan pria yang sedari tadi mematung disampingku tanpa mengucap sepatah kata itu saat ini. Hidupnya jauh berbeda dengan yang dulu. Dua bulan yang lalu dia memutuskan untuk pindah ke Solo. Hingga kini dia kembali, keadaannya sudah sangat kacau balau seperti tak pernah terurus.
“Di Solo nggak ada yang merawat Mas, ya?”
Tak ada jawaban.
“Mas? Kenapa diam terus, sih?!”
Masih tak ada jawaban.
“Lebih baik aku pulang kalau kamu nggak mau cerita!”
“Ibu sudah menyusul ayah ke surga,” suaranya terdengar parau.
“Maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu.”
“Lidia sudah meninggalkanku dengan pria lain, aku nggak punya siapa-siapa lagi.”
Ya Tuhan, pria ini sedang benar-benar rapuh. Bagaimana aku harus menghiburnya? Kami dalam keadaan hati yang sama—sedih. Hanya saja dalam keadaan yang berbeda. Dia yang bersedih karena perempuan lain, sedangkan aku yang bersedih karena alasannya bersedih.
“Bagaimana kuliahmu di Solo, Mas?”
“Aku nggak bisa bayar uang semester, kuliahku terpaksa harus kutunda.”
Aku mengeluarkan beberapa lembar uang untuk kuberikan padanya. “Jangan dihabiskan, lanjutkan kuliahmu, Mas. Kamu bisa mengganti uangku kapan saja kamu mau. Kita ini ‘kan sudah seperti saudara.”
Beberapa detik setelahnya, dia mematikan rokok di asbak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dengan lengan kuatnya, dia merengkuh tubuhku yang kaku. Dia selalu memelukku karena sayang, bukan karena cinta. “Mas pasti kembali, Dik.”
Dan aku akan selalu menunggumu pulang, Mas.
***
Aku akan tersenyum seakan tidak ada yang salah, berbicara seakan semuanya baik-baik saja, dan berpura-pura kalau aku tidak sedang menyimpan luka. Tahun ini adalah tahun ketiga sejak aku mengenalnya, tahun pertama sejak dia pergi dan berjanji akan kembali namun tak kunjung ditepati. Aku masih menunggunya. Tak pernah lupa ku selipkan namanya dalam setiap doa yang kuharap akan membawanya pulang.
Aku menunggumu, apakah kamu tahu?
Satu kalimat yang selalu menjadi objek utama pikiranku. Aku memang bodoh, sangat bodoh, membiarkan oranglain yang jelas tak pernah menyelipkan namaku dalam doanya menghancurkan perasaanku selama bertahun-tahun. Perasaan yang selalu kucoba bangun dengan kekuatan dan airmata, namun sekejap saja semuanya kembali ke bentuk semula—kepingan. Mataku sudah terlalu buta oleh cinta. Cinta yang bahkan kutahu hanya akan selalu menoreh luka. Luka yang tak pernah benar-benar hilang, luka yang justru semakin dalam.
Terkadang, aku takut menebak-nebak perasaanmu yang terlihat juga punya perasaan yang sama denganku. Mungkinkah segalanya nyata? Saat aku tahu, selalu ada gadis lain yang mengisi celah dalam hatinya. Aku sadar, aku yang terlalu memperjuangkanmu, padahal aku tahu kamu pun sedang dan terlalu memperjuangkan dia, Mas. Ini memang salahku.
Aku hampir ingin menyerah. Terlalu sakit memperjuangkan cinta diam-diam yang kian lama kian sulit ku tahan. Aku nyaris melepaskan, melupakan rasa yang selalu ku pupuk dan ku sirami dengan tekun agar tak pernah layu. Namun, kenyataan ini terlalu sulit kuterima. Aku merelakan puluhan waktu hingga ribuan detik hanya untuk menunggu cinta yang tak pasti akan pulang. Aku membiarkan hidupku bergantung pada sesuatu yang tak bisa ku jelaskan.
***
Kucari-cari sosoknya di antara banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang, tak sedikitpun kutemukan batang hidungnya. Ah! Betapa sulitnya mencari seseorang di tengah kerumunan orang seperti ini. Aku bahkan tidak pernah tahu dia adalah seorang mahasiswa jurusan apa di kampus sebesar ini. Aku sudah sampai di titik ini. Aku sudah sampai di tanah Solo. Ya, aku sudah berjalan sejauh ini. Masa harus terhenti hanya karena aku tak dapat menemukannya saat ini?
Tekad dan perasaanku jauh lebih besar dari pada rasa lelahku, lebih besar dari pada rasa sakitku. Aku nyaris terbiasa dengan ketidakjelasan ini dan terlanjur menikmati cinta sendiri, dan aku tidak punya alasan untuk berhenti melangkah. Berhenti mencari. Ataupun berhenti merindu.
Aku duduk di sebuah bangku taman. Lamunanku penuh oleh sosok dia, dia, dan selalu dirinya. Tiba-tiba saja lamunan itu seolah menjadi kenyataan. Ku cubit pipiku keras-keras, sekedar meyakinkan diri bahwa aku tak sedang bermimpi. Sosoknya munculnya begitu saja. Dengan sigap, aku menghampirinya. “Mas—“
Dia menoleh. “Lho, Dik? Kok, kamu di sini? Sejak kapan? Sama siapa?”
“Aku sengaja datang untuk menengokmu, Mas. Aku khawatir dengan keadaanmu. Kenapa nggak bisa dihubungi terus?”
“Aku sibuk.”
“Hanya untuk memberi kabar? Menjawab pesan singkatku?”
“Aku sibuk, Dik. Tolong mengertilah…”
Rindu yang kian menggebu kini seolah bergantian dengan sesak yang teramat sangat. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk menyembunyikan kekecewaan itu. Berusaha sebisaku untuk menahan tangis yang sedari tadi siap meluncur di penghujung mataku. Perasaan yang tadinya ingin kuluapkan terpaksa harus kupendam semakin jauh. Semakin sakit.
“Sayaaang….”
Aku menoleh, mencari arah datangnya suara yang semakin mendekat. Seorang gadis dengan rambut lurus sepinggang yang dibiarkan terurai hanya diberi hiasa jepit berwarna pink menghampirinya dan memeluk mesra tubuhnya. Tak perlu dijelaskan, aku tahu siapa gadis itu. Dia mungkin tak akan pernah sadar bahwa ada aku di depan matanya, bahwa ada aku yang selalu menunggunya, yang selalu mencintainya meski hanya dalam diam. Dia mungkin juga tak akan pernah sadar bahwa hanya aku yang mampu mencintainya tanpa lelah. Hanya aku perempuan yang rela tersakiti dan terus tersakiti hanya untuk melihatnya tersenyum bahagia. Bahwa hanya aku perempuan yang selalu ada di saat apapun keadaannya sekalipun itu saat-saat terburuknya. Hanya aku perempuan yang tak mengenal kata menyerah hanya untuk memperjuangkannya. Aku masih berusaha menahan tangisku yang sebentar lagi siap jatuh membasahi kedua pipi ini.
“Dia tunanganku, Dik. Namanya Raisa.”
Aku masih mampu memberikan seulas senyum paling munafik untuk mereka. Berpura-pura ikut larut dalam tawa bahagia mereka yang nyatanya amat menyakitkan bagiku. Ya, mereka, pasangan yang tengah berbahagia diatas penderitaanku. Kutelan pahitku sendiri. Kunikmati perih yang kian membunuhku.
***
Aku tahu, tak pernah ada yang sia-sia dari hadirnya sebuah cinta. Aku belajar ketulusan dari menyayanginya. Aku belajar kesabaran dari mencintainya. Aku belajar kekuatan dari tersakiti olehnya. Meskipun pada akhirnya, yang jatuh cinta diam-diam pasti akan terluka, namun aku yakin semua akan indah pada akhir cerita. Dari mencintai dalam diam, aku belajar sebuah cinta tanpa mengharap balasan. Karena yang utama dari cinta adalah sebuah ketulusan. Aku mencintainya yang jauh disana, aku menunggunya yang entah dimana, tapi pada saatnya aku tersadar bahwa cinta tak selamanya dapat bersama, kubiarkan perasaan ini terus larut dalam cinta diam-diam. Cinta yang kunikmati sendiri tanpa perlu berbagi.
Harus kau sadari, seseorang yang menangis untukmu karena dia mencintaimu. Kelak, belum tentu kau akan dapat menemukan seseorang yang lebih baik darinya. Dan ingatlah, bahwa terkadang seseorang yang memilih untuk jatuh cinta diam-diam, adalah yang paling tulus mencintaimu tanpa mengharap imbalan. Karena mereka yang memilih untuk menikmati cinta diam-diam yang dirasakannya, adalah seseorang yang akan paling kau sesalkan karena pernah mengabaikannya.
Dalam diam aku berharap. Dalam diam aku berdoa. Dalam diam aku mencinta. Dalam diam aku merindu. Dan dalam diam aku berbisik, kuselipkan satu nama yang masih abadi sampai saat ini. Namamu… Karena aku—mencintaimu.
Aku akan selalu menunggumu pulang, Mas.
Selalu.

THE END

Created by : Ayuditha Aninda Putri

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal