Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Senin, 14 Juli 2014

Senja Hati #JCDD



Semuanya terasa begitu nyata. Luka yang tak pernah kunjung mereda, atau bahkan malah semakin melebar. Butiran airmata yang mulai mengering, isak tangis yang mulai menghilang, tak juga mampu menutupi luka yang terlanjur memadat. Luka yang ku kira akan membekas entah sampai kapan. Ini bukan luka yang baru. Ini luka yang selalu berusaha ku tutupi rapat-rapat, ku sembunyikan agar tak satupun orang yang tahu tentang luka ini. Topeng ini sudah semakin tebal untuk menutupi kemunafikan yang ada pada diri ini. Pada ketidakmampuan hati untuk menunjukan yang sesungguhnya pada mereka. Mereka yang hanya bisa bicara, tapi tak mau mendengar. Mereka yang hanya ingin tahu, tapi tak mau mengerti. Mereka yang hanya ingin bahagia, tapi tak ingin ikut merasakan luka. Tadinya, ku kira ini semua hanyalah mimpi. Sebuah mimpi buruk yang tak pernah ingin ku nikmati. Ini lebih buruk dari mimpi yang lainnya. Terlalu buruk hingga aku sangat ingin berlari, bahkan melompat keluar dari mimpi itu sekarang juga. Aku ingin berlari secepat mungkin, berlari menghindari kenyataan yang tak hanya sebatas mimpi. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin. Sejauh mata ini tak bisa lagi menatap bola matanya yang teduh. Sejauh telinga ini tak bisa lagi mendengar bisik lembut suaranya yang tenang. Sejauh hati ini tak bisa lagi mengeja namanya secara sempurna. Ah, aku tak mungkin bisa melakukan semua itu menjadi nyata.
Sungguh, nama itu masih melekat jelas disana, di tempat yang telah di tinggalkannya beberapa bulan yang lalu—hatiku. Siluet indah senyumnya masih tersimpan disana, di tempat yang nyaris di penuhi debu-debu kerinduan yang semakin menggumpal—ingatanku. Aku memilih diam di balik kepalsuan ini. Karena hanya dalam diamku, aku bisa berjarak sedekat ini dengannya. Aku masih bisa menatap senyumnya yang tak lagi sama. Iya, tak lagi sama seperti saat kita masih bersama. Senyuman paling indah dari bibirmu yang tak lagi kumiliki. Aku bahkan tak berhak untuk memintanya. Semuanya telah jauh berbeda. Karena kita sudah memilih arah yang berbeda saat di persimpangan yang lalu. Tidak, bukan kita, tetapi kamu. Kamu yang memilih jalanmu sendiri. Dan aku, hanyalah wanita yang berusaha menyeimbangi pilihanmu. Berusaha menelan sakit yang tak pernah kau tahu. Apakah aku tak pernah pantas untuk kau perjuangkan?


***
Jarum jam bernyanyi dengan ketukan perlahan. Pukul sembilan malam. Aku hampir selalu lupa dengan jam tidurku setiap kali dia menelusup ke dalam pikiranku. ”Bagaimana?”
Aku mengulur tangan untuk meraih secangkir hot chocolate dan menyesap isinya perlahan, satu-satunya cara yang ku lakukan untuk menetralkan gejolak rasa yang tak kunjung mereda. Dira masih menatapku jengkel, ia mengerutkan dahinya tanda akan marah padaku. ”Kau masih memikirkan Dafa?” Nada bicaranya sedikit terangkat, alisnya nyaris bertaut. Dira memaksaku untuk menatap matanya yang memandang kejam.
”Entahlah, aku hanya merasa sedikit merindukannya.”
Dira merebahkan tubuhnya di atas ranjang, aku turut mengikutinya. Kami menatap langit-langit yang sama, Dira membuka percakapan seperti yang selalu kami lakukan setiap sabtu malam. ”Untuk apa kau masih merindukannya? Dia bahkan tak pantas sedikitpun untuk kau tangisi, Nai.”
”Aku nggak berpikir begitu, hanya....”
”Hanya....”
Aku meremas sepucuk kertas di depanku. Kertas yang bertuliskan namaku dan pria itu. Aku meremas kertas itu di luar kesadaranku, meluruskannya lagi meski tak sesempurna lipatan semula.
Dira langsung mengernyitkan dahinya, ”Kenapa?”
Ia masih menatapku jengkel, aku semakin tak kuasa berada di sampingnya. Tepatnya, aku merasa seperti sedang di introgasi oleh Dira. Tangannya meremas jemariku lembut, ”Kenapa?” Ulangnya.
”Entahlah,” aku tertunduk lemas. Ragaku seperti kosong tanpa jiwa.
Dira mengubah posisinya, ia memaksaku untuk mengikutinya. Kami duduk saling berhadapan, sambil terus menatap, Dira meyentuh lembut kedua pipiku. Apa yang akan di katakannya? Aku membungkam sebelum Dira angkat bicara.
”Kau masih mencintainya?”
Aku tetap dalam posisi yang sama. Hanya saja, bebutiran airmata telah siap meluncur dari balik kantung mataku. Aku hampir tak bisa berkata apapun.
”Naira, kau masih mencintainya ’kan?” Tanyanya meminta jawaban.
Aku melepaskan tangan Dira dari pipiku, mengusap tangis yang mulai jatuh saat Dira mendesakku. ”Kau ingin aku menjawab apa? Aku....”
Belum sempurna ucapanku, Dira menyergah, ”Kau tentu masih mencintainya. Sadar, Nai, Dafa yang memilih untuk meninggalkan kamu. Untuk apa kamu masih mencintainya?”
Dira lagi-lagi meremas jemariku, tatapannya semakin hangat menelusup batinku, ada rasa sayang yang ingin di tunjukannya padaku. ”Cinta nggak selamanya akan berakhir dengan bahagia, Nai. Dan Cinta, nggak cukup untuk di jadikan alasan dalam mempertahankan seseorang. Kamu mengerti kan, Nai?”
Aku semakin sulit menahan perasaanku, menyatukan kepingan-kepingan yang hancur bukan hal yang mudah bagiku. Empat tahun tidak pernah cukup untuk melupakan segalanya. Luka itu masih terus meluap. Menjalar menggurat perih yang semakin dalam. ”Beri aku waktu sedikit lagi.”
***
Aku derapkan langkah kaki dengan irama lamban. Mataku tiada henti menjamah setiap jengkal foto yang di peluk dinding berwarna kuning pucat ini. Seluruh fotonya membiaskan makna dan filosofi yang berbeda. Beberapa foto memaksa lidahku menggumam kagum nyaris tanpa jeda. Sejak kecil, aku selalu mengikuti ayah berkunjung ke pameran foto. Kunjungan ku dan ayah hanya sekedar menikmati hasil karya seorang seniman dan sesekali membeli satu diantara puluhan foto yang di peluk dinding bahkan menghiasi setiap meja. Sedikit demi sedikit, aku tahu bagaimana cara menikmati setiap foto yang di bidik oleh sang fotografer. Tapi itu tidak terlalu penting, yang utama dalam setiap kunjungan ku adalah menemukan satu gagasan baru yang tercuat dari foto-foto tersebut, untuk ku jadikan bahan tulisan lebih tepatnya.
Matahari membengkak tinggi. Larik cahayanya jatuh membasuh dan menjelma menjadi keping-keping cahaya di tanah ketika membentur dedaunan pohon yang bergetar-getar di sentuh angin. Pengunjung pameran masih bertahan jumlahnya, bahkan terus bertambah setiap jamnya. Dadaku hampir sesak, tulang kakiku nyaris patah sejak berdiri dari beberapa jam yang lalu. Betisku sudah terlalu keras, jari-jariku sedikit lecet akibat terlalu lama mengenakan wedges setinggi tiga sentimeter.
Aku memutar langkah mencari pintu keluar, sambil memijat-mijat pundak yang terasa pegal, aku berjalan lurus menelusuri lorong yang di penuhi foto-foto indah ini. Tubuhku menubruk seseorang dari arah yang berlawanan, aku mendongakan kepalaku menatap orang itu. ”Maafkan aku,” aku kembali tertunduk tanda menyesal.
”Maaf, tadi aku lagi melihat foto-foto ini sampai nggak lihat ada orang yang lewat. Maafkan aku.”
Aku menarik napas lega.
Sejak hari itu, kami memulai hubungan yang cukup dekat, cukup hangat untuk sebuah perkenalan singkat yang ku rasa akan menjadi awal sebuah cerita. Dadaku tak lagi terasa sesak, seolah bergantian dengan rasa gemetar yang tak pernah di minta, aku tak tahu harus menyebutnya sebagai apa. Kuikuti aliran darah ini yang terasa lebih cepat di bawah permukaan kulit. Getarannya terasa asing, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ada apa denganku?
***
Kami memilih untuk menempati sebuah meja kosong di sudut kafe. Tempat kesukaanku dan ayah setelah mengunjungi pameran tadi. Ayah selalu memesan seporsi nasi goreng seperti yang di sukainya, aku selalu memilih untuk memesan segelas cokelat panas dan menyesapnya perlahan sembari menunggu matahari bersembunyi kala senja hampir tiba. Di tempat ini,  Ayah juga pernah menyumbangkan suara emasnya untuk di nikmati para pengunjung. Ayah memang tidak pernah peduli apa yang akan orang-orang pikirkan tentangnya, hanya melakukan apapun yang ia suka dan bahagia.
”Kamu juga sering mengunjungi kafe ini?”
Aku mengangguk. Tatapannya semakin menghangat, senyumnya semakin terlihat, aku sangat ingin mengambil gambarnya, untuk kunikmati setelah perpisahan nanti yang ku tahu pasti terjadi.
Jepret!
”Kau mencuri gambarku diam-diam! Untuk apa?” Aku tersipu malu, tanpa ku sadari kamera DSLR yang menggantung di lehernya sedari tadi telah menangkap wajahku yang tak sedetikpun berhenti menatapnya. Pria itu tertawa kecil melihat ekspresiku di dalam kameranya. Sesekali ia menjatuhkan pandangannya padaku dan pada gambar itu secara bergantian. Aku masih memiliki urat malu, entah dimana harus ku sembunyikan rasa itu.
”Kau menyebalkan, pria tanpa nama!” Aku meledek dan berpura-pura marah padanya. Pria itu masih terkekeh.
”Maaf. Tapi kamu tetap cantik, kok, walau bagaimanapun.”
Entah mengapa, kami seperti pernah saling mengenal sebelumnya. Bahkan aku belum tahu namanya dan begitu sebaliknya, tapi kami seperti teman lama yang baru saja kembali bertemu. Aku semakin sulit mereka-reka getaran hebat ini.
”Namaku, Naira. Kau pasti punya nama bukan?” tanyaku penasaran. Tawanya mengembang dari sudut bibirnya. Kami masih saling menatap, sampai degupan jantung ini memaksaku untuk berhenti memperhatikan raut wajahnya.
”Namaku, Dafa. Senang berkenalan denganmu.”
Nama yang begitu tenang merayap di daun telinga. Aku mulai menghafalnya. Dafa. Namanya Dafa. Pria menyenangkan yang tak henti membuatku menyunggingkan senyum siang ini. Aku seperti bertemu pelangi. Pelangi yang baru saja muncul setelah sekian lama bersembunyi. Dafa berhasil merampas dan membawa lari hatiku saat itu juga. Dan aku, hanya terdiam dibalik senyum membiarkannya membawa lari perasaan yang kian lama semakin tumbuh tanpa ragu.
***
Awalnya, aku mencintainya diam-diam, hingga akhirnya kami bertemu di persimpangan jalan. Di sana kami memutuskan untuk melangkah bersama, saling bergenggaman seolah tak ingin saling melepaskan. Beberapa bulan kami lalui bersama. Dalam setiap canda dan tawa, aku berusaha mendiami hatinya. Diam-diam ku curi setiap kesempatan yang ada untuk bersandar di bahunya. Ku rasa Tuhan telah menitipkan bahu seorang malaikat padanya. Bahu yang begitu nyaman dan selalu memabukan. Hari berganti minggu, dan bulan tak kuasa berganti tahun. Ya, kami melewati ribuan detik bersama, selama hampir tiga tahun, kami masih saling berpeluk. Seperti tak pernah mengenal kata ”perpisahan” yang sejatinya selalu melengkapi setiap pertemuan.
Hari itu, aku dan Dafa bertengkar hebat. Pertengkaran yang berbeda dari yang biasanya. Pertengkaran yang tak pernah serumit dan sesulit ini. Aku punya firasat berbeda. Perasaan yang seolah berontak setiap saat aku berusaha menenangkan pikiranku sendiri. Perasaan yang serba entah, aku tidak tahu pasti. Hingga di akhir pertengkaran, ketika lagi-lagi kami berdiri di sebuah persimpangan jalan, Dafa dengan mudah memilih jalannya sendiri. Jalan yang tak lagi ingin di laluinya bersamaku, tanpa aku, seorang diri. Tubuhku melemas seketika. Sesak yang teramat sangat sulit untuk ku hentikan, bahkan semakin terasa mencabik-cabik perasaan ini. Aku ingin menangis, aku ingin berteriak sekencang mungkin, namun aku tak bisa. Aku hanya terus menatap layar ponselku yang saat itu menjadi perantara yang nyata tanpa banyak ucap, hanya menyimpan seribu tanya yang tak mau menghilang.
Aku terlanjur mencintainya terlalu jauh. Sangat jauh hingga aku tak ingin kembali. Aku ingin terus bersamanya, tapi itu tak mungkin terjadi. Semua harapan itu kini telah hancur menjadi mozaik-mozaik tanpa arti. Airmataku tak sedikitpun menetes saat Dafa memilih untuk pergi, mungkin lukaku sudah terlalu parah hingga aku tak sanggup menangis. Dafa tidak boleh tahu perasaanku yang telah tak berbentuk rupanya. Aku berusaha sekuat mungkin menahan sakit yang sesungguhnya terlalu sulit untuk ku tutupi di depannya. Buru-buru aku memasang senyum paling bahagia di wajahku, senyuman yang tak pernah nyata justru hanya menggores luka. Aku hanya ingin melihatnya bahagia meskipun tanpa aku di sisinya. Aku tak ingin memaksakan sesuatu yang memang tak bisa untuk di paksakan—hatinya. Aku tak ingin memperkeruh keadaan yang hanya akan membentangkan jarak semakin lebar dan semakin jauh antara aku dan Dafa. Haruskah aku kembali mencintainya diam-diam seperti dulu? Merelakan segalanya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan hanya untuk melihatnya bahagia?
Rintik hujan masih terdengar di luar jendela, seperti airmataku yang tak lagi mampu ku bendung setelah semuanya menjadi sangat berbeda. Ku kira aku sudah cukup kuat menahan tangis yang berusaha ku tahan di pelupuk mata, setiap saat kulihat namanya tertera di layar ponsel dalam suasana yang tak juga menghangat. Dingin seperti cuaca sore ini. Aku berusaha menyeimbangi keinginannya, menikmati keputusan yang di pilihnya, terbiasa dengan keadaan yang mau tak mau harus ku jalani setiap harinya. Hanya sebatas teman, dan tak tahu sampai kapan. Entah sampai kapan aku harus berjalan sendiri. Mencari dan terus mencari kemana aku harus pergi. Ya, pergi untuk menyembuhkan luka yang kian menetap di hati ini. Tapi aku tak bisa, aku tak ingin meninggalkannya sendiri walau pahit kenyataannya. Aku ingin selalu menjadi orang pertama yang tahu keadaannya. Orang yang pertama memberikannya perhatian walau mungkin tak akan di gubrisnya. Aku hanya ingin menepati janjiku pada Tuhan, bahwa aku akan selalu menjaganya apapun keadaannya, bagaimanapun situasinya, tanpa perduli pada status yang ada. Aku ingin selalu ada di sampingnya.
***
”Nai, lagi dimana? Temenin aku jalan, yuk!” Ucap Dafa di ujung telfonnya. Aku bisa saja menolak ajakannya karena aku bukanlah siapa-siapa lagi baginya. Aku bukan seseorang yang harus selalu ada di sampingnya. Aku hanya seorang teman yang mungkin tak akan pernah jadi tujuan.
Aku menjawab sekenanya, ”Boleh. Mau kemana emangnya, Daf?”
”Ke Pantai Anyer, Nai. Aku lagi mau menikmati sunset nih, kayaknya menyenangkan. Kita naik bus travel aja biar nggak perlu ribet. Gimana?”
”Boleh,” jawabku singkat.
”Ya udah, kamu siap-siap sekarang, ya. Besok siang aku jemput kamu dan kita langsung berangkat, oke? Bye!” 
Tuuuuuttt... sambungan telfon langsung terputus. Yang ku pikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya aku mampu menahan senyum palsu selama berjam-jam saat aku bersamanya, sedangkan menatap matanya saja aku tak mampu. Aku takut melihat ribuan kenangan yang pernah ku lalui bersamanya disana. Aku takut harapanku justru semakin besar dan terlalu jauh. Padahal, aku juga tak tahu apa yang harus ku harapkan lagi dari hubungan yang seperti ini. Baginya, ini semua memang sudah jelas. Ya, jelas-jelas berakhir. Sedangkan bagiku, ini sama sekali belum jelas, karena aku terlalu takut kehilangan. Aku terlalu takut kehilangannya.
***
Kali ini aku tak boleh terlihat bodoh dan canggung di depannya. Aku tak ingin suasana menjadi dingin dan tak ada kehangatan diantara kami. Aku berusaha menutupi segalanya, perasaan aneh yang mengalir dalam darahku setiap saat aku bersamanya. Aku tak ingin berada di dekatku justru membuatnya merasa tak nyaman. Aku berusaha bertindak seperti biasa, tapi rasanya terlalu berat. Aku sulit bertindak biasa ketika seseorang yang masih sangat kucintai berdekatan dengannku, semakin rapat. Aku bisa merasakan debaran jantung ini, debaran yang sama saat pertama aku melihatnya. Sedikitpun tak ada yang berubah.
Bus berjalan di tengah rintik hujan yang masih tipis, tak terlalu deras seperti biasanya. Aku berusaha menempatkan diriku dalam keadaan senyaman mungkin. Bersandar di bangku dan menatap ke arah jendela. Terkadang, lengan kami saling bersentuhan, tapi tak saling menyapa. Sesekali aku mencuri pandangan kepadanya yang sedari tadi sibuk memainkan games dalam gadgetnya. Ya Tuhan, getaran ini semakin hebat kurasakan di seluruh tubuhku. Matanya yang teduh, hidungnya yang mancung, dagunya yang tidak terlalu lancip, kumis tipisnya yang menambah kesan manis di wajahnya, rambutnya yang sedikit keriting dan berwarna hitam kelam itu selalu terlihat memesona di mataku. Aku menatapnya semakin sering, sampai tatapan kami bertemu di satu titik yang kuharap dapat menyatukan kami kembali. Ah, pikiran macam apa ini! Mana mungkin Dafa berpikiran yang sama sepertiku.
”Nai, kamu kok diam terus, sih? Nggak suka ya aku ajak ke pantai?”
Suara itu terdengar lembut menyapa telingaku, membuyarkan lamunanku yang penuh khayalan tentang dirinya. ”Aku suka banget, kok! Serius, aku suka banget!”
”Ah, bisa aja!” Ucapnya sembari membelai halus rambutku.
Deg. Perasaan ini selalu muncul setiap kali aku bersamanya, berjarak sedekat ini dengannya. Aku memang hanya temannya, teman yang berharap bisa menjadi tujuan. Aku ingin dia tahu, aku masih mencintainya diam-diam dalam sunyi. Hanya aku dan Tuhan yang tahu saat ini, atau entah sampai kapan.
”Diam terus, sih! Kalau ada bau nggak enak kayaknya dari kamu, deh, baunya.”
”Yeee, enak aja! Nggak juga kali!” Aku mulai berani mencubit gemas lengannya. Hal yang dulu selalu ku lakukan saat kami tertawa bersama. Aku hampir lupa kapan tepatnya terakhir kali aku melakukan itu padanya. Aku mulai nyaman dengan keadaan ini.
”Duh, sakit!” Teriak Dafa sambil meringis kecil, membalas cubitan di kedua pipiku dan kemudian terbahak. Aku hampir tak pernah bosan melihat senyum dan mendengar tawanya.
Kabin bus yang sejak tadi hening dan seolah membeku jadi terasa hangat dan mencair. Walaupun rasa sesak ini masih tetap sama, aku bahagia melihatnya bahagia. Kutahan sakitku hanya untuk memperbaiki sesuatu yang seharusnya ku perbaiki  sejak lama. Hubungan kami yang kian merenggang sebelum akhirnya Dafa memutuskan untuk pergi dan berjalan sendiri. Tanpa aku.
Semua penumpang tampaknya sudah tertidur pulas. Tak ada musik dan putaran lagu yang terdengar sedikitpun. Hanya deru air conditioner yang sesekali terdengar bersautan dengan dengkuran para penumpang yang terdengar samar-samar.
Aku menatap wajahnya sekali lagi, semakin lama, semakin puas aku melihatnya. Ku pikir dia sudah tertidur pulas. Ku rebahkan kepalaku pada sandaran bahunya. Aku sangat merindukan kehangatan yang bahkan dulu sering ku dapatkan dari bahunya. Aku merindukan segalanya tentang aku dan Dafa. Diam-diam aku berbisik dalam doa, aku berharap kita dapat selalu bersama. Bersama seperti kita yang dulu. Iya, saat semuanya belum berubah.
Ya Tuhan, semua ini membuat dadaku semakin sesak.
Aku bergeser memindahkan kepalaku dari bahunya itu ke kaca jendela. Namun, tangannya tiba-tiba meraih kepalaku dan memindahkannya lagi ke bahunya. Aku tersentak dengan sentuhan itu. Dafa masih terpejam, tapi bisa kurasakan tangannya mulai memeluk tubuhku yang kaku. Aku takut harapan ini terlalu jauh. Aku takut semakin sakit ketika semua yang kubayangkan tak pernah menjadi kenyataan. Mengapa bukan hatinya yang memelukku seperti ini? Mengapa kita tidak mencoba bersama seperti kita yang dulu, Daf? Aku merindukan panggilan sayang itu, aku merindukan pelukan hangat itu, aku merindukan kecupan manis yang kau daratkan sempurna di keningku. Aku mungkin hanya bermimpi dan terus bermimpi. Karena aku tak tahu pasti, kapan hatimu akan kembali.
***
Tidak sampai 30 menit, matahari siap untuk terbenam. Cahaya langit yang berwarna oranye keemasan tampak begitu indah. Kilauannya yang cantik tak juga menimbulkan sakit pada mata bila menatapnya tanpa henti. Aku suka melihat sunset, terlebih hari ini, semuanya terasa begitu spesial walau tetap tak menutup luka. Luka yang masih sama dan tak pernah mereda. Luka yang seringkali menguap bila kenyataan membangunkanku dari mimpi indah yang terasa nyata.
”Nai....”
Ku dengar bisikan lembut Dafa memanggil namaku. Seperti biasanya, lembut suaranya selalu membuatku merasa tenang dan damai. ”Kenapa, Daf?”
Senyumnya terlihat, tapi tak selebar saat kami tertawa selama dalam perjalanan. ”Makasih banyak, Nai,” ucap Dafa sambil meraih tangan kananku. Aku bisa merasakan jemarinya mulai menggenggam milikku. Tanganku sedikit gemetar, dan aku tak bisa menyembunyikannya. Mataku terasa memanas. Beberapa bulir airmata siap meluncur membasahi pipiku. Aku tak ingin menangis. Aku tak ingin memperlihatkan kelemahanku pada Dafa. Kelemahanku yang hanya mampu mencintainya diam-diam tanpa sepatah kata, hanya karena aku takut kami akan semakin menjauh.
Keputusan Dafa saat itu tak pernah terhapus sedikitpun dari memori ingatanku. Caranya menghancurkan perasaanku masih terlalu nyata dalam kepalaku. Tidak, aku tidak pernah membencinya. Tak ada yang berubah dari diriku yang dulu untuknya. Semuanya masih tertata rapi di tempat yang sama—hatiku.
Aku berusaha melepaskan genggaman jemarinya yang kuat. Namun, semakin ingin ku lepaskan semakin kuat genggamannya. Ingin rasanya aku merengkuh tubuhnya saat ini juga, tapi aku hanya bisa terdiam. Bisuku terlalu sulit mengucap kata. Perihnya semakin tak karuan.
Matahari semakin terbenam. Terlihat beberapa pasangan turut menikmati pemandangan indah yang melengkapi senja hari ini. Tiba-tiba saja Dafa menarik tubuhku yang kaku, dan bisa ku rasakan pelukannya masih sehangat yang dulu. Aku memeluknya semakin erat, semakin rapat, seolah tak ingin lagi melepaskan. Aku berharap tak akan pernah kehilangan dia dan cintanya walau aku hanya bisa mencintainya diam-diam. Dafa, pulanglah...

THE END

Created by : Ayuditha Aninda Putri

0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal