Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Minggu, 13 Juli 2014

Sepatu - #JCDD




Freya
Tangisku baru saja mengering saat kulihat nama Nadia tertera pada layar ponselku, panggilan masuk. Hari ini aku sedang tidak bersemangat melakukan apapun. Luka yang masih basah begitu terasa menyayat perlahan-lahan. Hati ini masih terlalu sakit mengingat kejadian malam tadi, saat laki-laki brengsek itu memilih untuk mengakhiri hubungannya denganku. Aku bahkan tahu bahwa hal ini pasti terjadi, tetapi bagaimana mungkin hubungan yang kian terjalin selama bertahun-tahun harus berakhir di tengah jalan hanya karena sesuatu yang tidak sepantasnya menjadi perdebatan. Bukankah rasa cinta mampu mengalahkan segalanya? Aku benci mengatakannya, aku benci mengingat semua kenangan yang kini hanyalah butiran pasir yang bahkan tak dapat ku genggam erat-erat. Ya, semakin ku gengggam erat justru akan semakin lepas. Semakin ku renggangkan justru akan semakin utuh. Semua tentangnya masih melekat jelas dalam memori ini, entah sampai kapan aku akan mengingatnya. Entah sampai aku bisa mempertahankan perasaan ini padanya. Entah sampai kapan ku selipkan namanya dalam setiap doa. Entah sampai kapan aku bisa mencintainya diam-diam. Entah sampai kapan aku mampu menahan sakitnya luka ini. Berusaha sekuat mungkin menutupi luka yang tak pernah benar-benar kering.

Nadia
“Frey, ayo dong angkat telfonnya! Gue khawatir sama lo!”
Aku tahu bagaimana rasanya di khianati. Mencintai seseorang yang akhirnya menyakiti. Freya adalah sahabat terdekatku, kami selalu menghabiskan waktu bersama hampir di setiap harinya. Malam tadi Freya menghubungiku, suaranya terdengar parau, isak tangisnya jelas menggambarkan kesedihan hatinya. Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya saat itu juga. Ingin rasanya aku menghapus tangis yang membasahi pipi merahnya. Ingin rasanya ku tampar laki-laki brengsek itu yang tega mengkhianati ketulusan Freya dan cinta putihnya. Aku dan Freya sudah bertahun-tahun hidup bersama. Berbagi tawa, suka, riang, canda ataupun kesedihan semacam ini. Galau akibat putus cinta atau gagal dalam ujian. Tetapi aku tahu bahwa kesedihan yang dirasakan Freya saat ini adalah kesedihannya yang terdalam. Dia sangat mencintai pria itu, apapun alasannya Freya tidak pernah ingin berpaling apalagi sampai mengakhiri hubungannya, aku tahu perasaan Freya saat ini. Betapa sakitnya terkhianati cinta yang selalu ia jaga. Karena tak ada yang lebih menyakitkan dari pada di sakiti saat mencintai; ditinggalkan.

Ammar
Aku mencintai seseorang yang ada di dekatku. Seseorang yang selalu membuatku bertanya-tanya, bolehkah aku mencintainya? Pantaskah aku untuk mendekatinya? Makhluk Tuhan yang nyaris sempurna. Aku mengaguminya tanpa seorangpun yang tahu. Ya, hanya aku dan Tuhan yang mengerti perasaan ini. Perasaan yang sulit kupahami. Aku hanya laki-laki bodoh yang tak mengerti tentang cinta, yang selalu merelakan perasaannya terabaikan walau sangat menyakitkan. Entahlah, bagiku itu adalah arti mencintai yang sesungguhnya. Dan bagiku, lebih menyakitkan melihat seseorang yang aku cintai menitikan airmata dari pada perasaanku sendiri. Aku memang terlalu munafik, tetapi aku berusaha menikmati kemunafikan ini yang seringkali menyesakan dada. Menyakitkan.



Mike
Perasaan ini berubah begitu saja. Aku terlalu lelah menjalani hubungan yang membosankan. Mungkin aku yang terlalu jahat, atau memang dia yang terlalu baik untukku sehingga aku tak pantas bersamanya. Freya adalah perempuan yang sangat istimewa. Freya adalah perempuan yang selalu bersedia memberikan waktunya hanya untuk menemaniku, hanya untuk bersamaku. Freya adalah seorang perempuan hebat, yang selalu memaafkan walau selalu di sakiti. Ya, aku yang selalu menyakitinya. Betapa tulus perhatian yang selalu di berikannya untukku, namun aku justru membalasanya dengan sebuah sikap yang tidak menyenangkan. Freya selalu berusaha membuatku bahagia, tetapi apa yang kulakukan?  Aku menghancurkan perasaannya. Aku merusak mimpi yang tengah dibangunnya dan ingin di wujudkannya. Aku membiarkannya terluka hanya demi diriku sendiri? Aku memang laki-laki bodoh yang telah menyia-nyiakan perasaannya.
***
Freya
Aku tak ingin mencari, karena aku sudah terlalu lelah berlari. Aku tak ingin memaksa, karena aku tak ingin tersiksa. Tuhan, aku hanya ingin bahagia. Aku selalu berusaha membuat orang-orang yang kusayangi bahagia karenaku, tetapi ternyata semua tak cukup untuk mempertahankan seseorang agar tetap tinggal bersamaku. Mungkin ini kesalahanku. Aku terlalu membosankan. Aku terlalu berlebihan. Ya, aku terlalu berlebihan mencintai seseorang. Ini salahku, terlalu membiarkan oranglain mengendalikan perasaan dan hidupku. Ini kebodohanku, membiarkan hatiku terlena oleh kebahagiaan yang semu. Aku bahkan hampir lupa caranya tersenyum, menata ulang hati yang telah berubah menjadi kepingan-kepingan yang hancur bukan hal yang mudah untuk kulakukan. Aku juga tidak tahu harus memulai dari mana hari-hariku yang baru, yang mungkin akan sepi dan kunikmati sendiri. Seandainya aku dapat memutar waktu.
Aku berhenti menulis dan menutup buku harianku.
Tok. Tok. Tok.
“Frey, lo di kamar ‘kan?” suara Nadia terdengar di balik pintu. Aku berjalan terseok-seok untuk membukakan pintu dan membiarkannya masuk. Mungkin aku juga nyaris lupa caranya berjalan setelah beberapa hari hanya terdiam di atas kasur dan bersembunyi di balik selimut.
“Frey, lo nggak apa-apa ‘kan? Lo baik-baik aja ‘kan? Sehat ‘kan? Gue khawatir banget sama lo! Kenapa lo nggak pernah jawab telfon gue?”
I’m okay.
Are you seriously, honey? Please tell me,” ucap Nadia sambil terus menatapku tanpa henti, seolah-olah tak percaya bahwa aku memang baik-baik saja. Maksudku, aku memang terlihat baik-baik saja, tidak dalam arti sebenarnya. Aku tak memberi jawaban, hanya anggukan lemah ku kira cukup untuk menggambarkan keadaanku. Aku beruntung memiliki sahabat sepertinya, sahabat yang tak pernah membiarkanku merasa sendiri dengan beban yang ku miliki.
“Keluar, yuk, Frey! Lo ‘kan dari kemarin di rumah terus tuh, nggak bosan?” ucap Nadia seraya menarik-narik tanganku.
Mungkin tak ada salahnya menerima ajakan Nadia, lagipula aku perlu men-setting ulang hidupku yang agak sedikit berantakan hanya karena patah hati. Setidaknya aku punya Tuhan yang selalu menjagaku, aku punya Nadia yang selalu menyayangiku. Hingga aku tak punya alasan untuk tidak melanjutkan hidupku atau menghentikan langkahku.

Nadia
Malam ini aku menemui Freya di rumahnya. Betapa sedih hatiku saat melihat wajahnya yang pucat dan lesu akibat terlalu banyak mengurung diri di kamar. Mata panda jelas melingkar di sekitar matanya.  Tak ada rona kemerahan yang biasanya terlihat di pipinya. Freya butuh sedikit refreshing. Mungkin aku tahu aku harus membawanya kemana untuk memulihkan perasaannya dan membuatnya tersenyum.
“Frey, sudah siap belum? Gue tunggu di mobil, ya.” Aku meninggalkan kamar Freya dan memutuskan untuk menunggunya di mobil. Kubiarkan Freya untuk membersihkan dirinya sejenak yang tak pernah tersentuh oleh air selama beberapa hari ini.
Kurang dari empat puluh lima menit, Freya sudah menghampiriku ke dalam mobil dan kami siap untuk bersenang-senang. Aku berharap dapat melihat senyum manis Freya mengembang seperti saat sebelum malam itu merampas kebahagiaannya.
“Kita mau kemana, Nad?” Tanya Freya penasaran.
Aku tak menjawab, hanya melempar senyum seribu makna yang membuat Freya semakin penasaran. Bahkan ada seseorang yang rela tersakiti hanya untuk mencintaimu, Frey. Ada seseorang yang rela melakukan apapun hanya untuk membuatmu bahagia dan kamu nggak sadar itu. Seandainya itu terjadi padaku.
“Frey, nanti tutup mata dulu, ya! Jangan dibuka sebelum kita sampai.”
“Ada apaan, sih?”
Aku menutup matanya dengan kain pengikat. Bahkan Freya sendiri mungkin masih tidak sadar kalau hari ini adalah hari ulangtahunnya. Aku dan teman-teman Freya yang lainnya sudah menyiapkan kejutan untuknya. Bukan, semua ini bukan rencanaku. Bukan juga rencana orangtuanya. Ini semua rencana Ammar. Untuk Freya.

Ammar
Sudah cukup Freya membuang airmatanya yang tulus hanya untuk seseorang yang tak pantas untuk ditangisi. Aku tahu, betapa terlukanya Freya saat Mike memilih untuk mengakhiri hubungan mereka setelah hampir tiga tahun mereka bersama mengukir bahagia diatas kesedihanku. Aku tidak ingin Freya menangis lagi. Darimana aku tahu? Nadia. Nadia selalu bersedia menjadi perantara antara aku dan Freya. Maksudku, aku sudah lama mengagumi Freya. Empat tahun sudah aku jatuh cinta diam-diam padanya, dan Nadia tahu itu. Aku terpaksa menceritakan perasaanku pada Nadia karena Nadia pernah tanpa sengaja menemukanku sedang memperhatikan Freya beberapa kali. Sejak itu, Nadia bersedia membantu menyembunyikan perasaanku pada Freya. Aku tahu Freya hanya bahagia bersama Mike, bukan denganku. Itulah mengapa aku tak pernah berani menyampaikan perasaanku yang sesungguhnya. Aku menikmati statusku sebagai pengagum rahasia Freya. Aku bersedia melakukan apapun untuknya. Untuk membuatnya tersenyum bahagia tanpa airmata.
Hari ini Freya ulangtahun. Aku ingin memberikan kejutan sederhana untuknya. Aku meminta bantuan Nadia dalam hal ini, karena aku tak mungkin melakukannya sendiri secara terang-terangan. Mana mungkin Freya mau menerimanya kalau dia tahu ini semua adalah rencanaku. Karena hanya Mike yang diinginkannya, bukan aku. Karena hanya Mike yang ada dihatinya, bukan diriku.         
Aku menyiapkan pesta ulangtahun sederhana di sebuah taman yang ku dekorasi bersama dengan teman-teman Freya yang lainnya. Aku berharap Freya menikmati pesta ulangtahunnya nanti malam. Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya, karena aku tak mungkin menghapus airmatanya dan mengobati lukanya secara langsung. Aku bukan siapa-siapa baginya.

Mike
            Hari ini adalah hari yang istimewa untuk Freya, seharusnya aku yang menyiapkan pesta kejutan untuknya. Seharusnya aku yang menjadikannya sebagai satu-satunya perempuan paling bahagia di malam ini. Seharusnya aku yang pertama mengucapkan selamat ulangtahun padanya. Iya, seharusnya aku. Betapa bodohnya aku menyakiti Freya yang sudah jelas tulus mencintaiku apa adanya. Betapa bodohnya aku membiarkannya membuang airmata yang tidak seharusnya terjatuh. Menyesal, mungkin adalah satu kata yang paling tepat untuk mengungkapkan hati ini. Hanya karena kejenuhan yang datang sementara, aku menghancurkan perasaannya. Hanya karena rasa lelah yang sesaat, aku menggoreskan luka di hatinya. Mungkin hanya Freya gadis terbaik yang mau menerimaku apa adanya. Mungkin hanya Freya gadis luar biasa yang mampu menyeimbangi kehidupanku.
Tuhan, masih pantaskah aku untuk kembali padanya?
            Terlambatkah aku untuk membayar semua kesalahanku padanya? Aku mencintainya, aku sungguh mencintainya. Hanya dia perempuan yang selalu setia mendampingiku. Hanya dia perempuan yang membuatku menjadi seseorang yang lebih baik. Hanya dia perempuan yang mampu mengubah warna kelabu dalam hidupku menjadi pelangi. Hanya dia yang mampu mengubah tangisku menjadi tawa, mengubah dukaku menjadi suka, mengubah gelisah hatiku menjadi kenyamanan yang luar biasa.
            Tuhan, berikan aku satu kesempatan untuk mengobati luka Freya yang kubuat sendiri. Aku ingin membahagiakannya. Aku ingin mengusap tangisnya dan mengukir senyum indah di wajahnya. Masih adakah kesempatan itu untukku? Memperbaiki segala yang hancur karena ulahku.
***
Freya
            Aku tidak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh Nadia sampai-sampai mataku harus di tutup seperti ini. Entah Nadia ingin menculikku ke suatu tempat atau bahkan aku akan di buang di pinggir jalan. Nadia tak sedikitpun memberikan isyarat padaku.
            “Lama banget, Nad, nggak sampai-sampai?” Aku mulai kehabisan kesabaran.
            “Sebentar lagi, kok.”
            Aku hampir bosan duduk di dalam mobil dengan mata tertutup. Tidak ada yang bisa ku lihat, tidak ada yang bisa ku nikmati. Tidak ada cahaya, semuanya gelap. Tidak, mungkin tidak semuanya. Aku masih bisa melihat wajah Mike meski dalam keadaan seperti ini. Ya, satu-satunya bayangan yang dapat kulihat hanyalah wajah Mike. Meski bentuknya terlihat samar dan tak sempurna, aku tahu bayangan itu membentuk lekuk wajahnya. Mungkin aku merindukan Mike. Rindu caranya memanggil namaku. Rindu caranya menggenggam jemariku. Rindu caranya memeluk tubuhku. Tak ada yang berbeda di hati ini. Tempat ini masih tetap menjadi miliknya. Perasaanku masih utuh seperti sebelum malam itu terjadi. Ah, kini rasa rindu itu seolah bergantian dengan rasa sesak yang begitu terasa. Luka ini sudah terlalu besar, terlalu dalam, dan terlalu parah. Aku tak mampu untuk mengobati lukaku sendiri. Seperti tersesat dalam lubang tanpa celah, aku tak pernah menemukan titik terang untuk masalah hati ini.
            “Frey, kita sudah sampai! Gue tuntun lo, ya, tapi jangan ngintip!”
            Aku hanya berdehem pelan. Aku mulai merasakan bosan yang cukup parah dan kantuk yang mulai menyapa. Aku mengikuti langkah Nadia tanpa perasaan dan pikiran apapun. Aku sudah cukup dikejutkan dengan keputusan Mike malam itu yang terkesan begitu mendadak.
            “Hitungan ketiga lo boleh buka mata. 1…2…3…”
            Aku membuka ikat saputangan yang menutupi mataku.
            “SURPRISEEE!!!” Suara riuh teman-teman terdengar bersamaan di ikuti nyanyian lagu Happy Birthday dan Selamat Ulang Tahun. Aku bahkan melupakan hari kelahiranku sendiri. Aku mencubit lenganku keras-keras. “Aah!”
            Ini bukan hanya mimpi atau sekedar imajinasiku saja. Semuanya berkumpul di tempat ini. Ada Mama, Papa, Nadia, dan teman-teman yang lainnya. Ya, semuanya hadir di sini kecuali, Mike. Dia tidak datang. Aku tahu, dia tak mungkin datang.
            “Selamat Ulang Tahun, Freya!” ucap seorang badut yang mengenakan kostum beruang kesukaanku. Dia memberiku setangkai bunga mawar merah dan kartu ucapan yang manis. Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia malam ini. Aku suka dekorasi pestanya, aku suka kue ulangtahunnya, dan aku suka mendapatkan perlakuan istimewa meskipun hanya dari teman-teman, keluarga, dan seorang badut yang bahkan aku tak tahu siapa dia. Terima kasih semuanya. Terima kasih untuk malam yang indah.

Nadia
            Aku ingin menjadi seperti Freya. Begitu banyak orang-orang yang menyayanginya, termasuk Ammar. Seseorang yang selalu ku kagumi diam-diam. Seseorang yang selalu ku perhatikan tanpa jeda. Seseorang yang menjadi alasan aku menyunggingkan senyum setiap kali melihat wajahnya. Aku mencintai Ammar dalam kesederhanaannya. Aku mencintai Ammar meski tak mungkin bersama. Aku dan dirinya ibarat sepasang sepatu yang dapat selalu bersama namun tak pernah benar-benar saling melengkapi dan memiliki. Terlalu sakit untuk kujelaskan. Perasaan ini seringkali meronta-ronta hatinya. Namun, aku bisa? Aku tak mungkin memaksakan perasaannya yang jauh berbeda dengan perasaanku. Aku tak mungkin meminta hatinya yang sudah jelas bukan untukku.
            Mungkin aku hanyalah seorang perempuan yang paling munafik. Selalu berusaha tersenyum seolah-olah menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia, tetapi pada kenyataannya justru akulah seseorang yang paling menyedihkan. Memunafikan diri untuk menutupi perasaan yang sebenarnya, bukankah itu tingkah seorang pengecut?
            Kalau Ammar dengan tulusnya hanya ingin melihat Freya bahagia, aku pun juga ingin melihat Ammar dan Freya bahagia. Ammar, seseorang yang aku cintai. Freya, sahabat yang paling aku sayangi. Aku cukup puas menjadi penonton dalam panggung sandiwara ini. Aku cukup puas karena mampu menahan tangis yang selalu harus kututupi di depan mereka. Terkadang, aku merasa menjadi perempuan paling kuat atau malah menjadi perempuan paling lemah.

Ammar
            Aku bahagia melihat Freya tersenyum lepas pada malam perayaan ulangtahunnya. Itulah satu-satunya tujuan utamaku memberikan kejutan sederhana itu untuknya. Senyum itu yang ingin ku lihat. Senyum itu yang ingin ku pandang. Meskipun Freya tak pernah tahu keberadaanku saat itu. Sekalipun Freya tak pernah tahu akulah seseorang dibalik kostum badut itu. Walaupun Freya tak pernah tahu perasaanku padanya.
            Jatuh cinta diam-diam membuatku semakin paham. Bahwasannya aku tak membutuhkan status untuk melihat orang yang ku sayang tersenyum bahagia. Mungkin aku hanyalah seorang laki-laki yang harus puas menikmati cinta pada bayangan Freya. Harus puas memandangi sang pemilik hati dari kejauhan. Harus puas menjadi pengagum rahasia dibalik kostum badut agar bisa berjarak sedekat mungkin dengan Freya. Meski seringkali aku bertanya, apakah aku tak punya sedikitpun kesempatan untuk lebih dari sekedar ini? Ah, itu mungkin tidak akan terjadi. Di hati Freya hanya ada Mike. Entah hanya untuk sementara, atau mungkin untuk selamanya.

Mike
            Aku tak ingin membuat keputusan yang salah untuk kedua kalinya. Aku tak ingin menyesal karena kehilangan seseorang yang dengan tulus mencintaiku seperti Freya. Kesalahan terbesar yang paling bodoh kulakukan adalah meninggalkannya hanya karena kejenuhan yang bersifat sementara. Aku  ingin memperbaiki kesalahan yang lalu. Aku ingin menemui Freya bahkan aku rela melakukan apapun untuknya. Untuk mengobati luka yang seharusnya tak pernah ada dihatinya.
            Tuhan, aku berharap aku belum terlambat.
            Aku segera mengambil ponsel dan mencari nomor Freya di dalam kontak. Bahkan nama itu tak pernah terganti sedikitpun—Honey. Tut…Tut…Tut…
            Tak ada jawaban. Hingga sampai berkali-kali ku hubungi tetap tak ada jawaban. Kemana Freya? Apakah dia begitu membenciku sampai-sampai tak ingin menjawab panggilan masuk dariku? Aku masih terus berusaha. Puluhan pesan singkat ku kirimkan ke nomor ponselnya. Bahkan hingga siang berganti malam Freya tak kunjung membalas pesan itu. Ada apa dengan Freya?
            Kali ini aku mencoba menghubungi Nadia, sahabat dekat Freya satu-satunya. Aku berusaha mencari jejak Freya yang seolah menjauh dari kehidupanku. Menjauh dan semakin menjauh tanpa kabar. Nadia pun juga tak kunjung membalas pesan yang ku kirimkan padanya. Aku semakin tak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku pun memutuskan untuk mendatangi rumah Freya tanpa pikir panjang lagi.
            Tok…Tok…Tok… Aku mengetuk pintu rumah Freya beberapa kali, namun tak ada jawaban. Tak seorangpun ada yang keluar dari dalam rumah. Aku masih menunggu di depan pintu rumahnya sampai  salah seorang tetangganya menghampiriku. “Mas, cari Freya, ya? Freya dan keluarganya ‘kan sudah pindah keluar kota sejak pagi tadi. Permisi, Mas.”
            Aku tersenyum kecil dengan anggukan lemah. Ya, aku terlambat. Freya terlanjur pergi tanpa sempat aku memintanya untuk kembali. Aku baru saja kehilangan gadis yang aku cintai. Aku baru saja kehilangan seseorang yang selalu mencintaiku dengan tulus. Inilah penyesalan yang selalu ku takutkan. Ya Tuhan, izinkan aku untuk mencintainya dalam diam. Aku akan menunggunya di sini sampai Freya kembali.
***
Mencintaimu dalam diam adalah bagian dari hidupku. Bagian yang paling menyakitkan sekaligus menyenangkan bagiku. Meskipun hingga suatu hari nanti kamu tetap tak menyadarinya, aku tidak akan pernah menyesal mencintaimu. Karena bertemu denganmu adalah keindahan yang tak mungkin dapat terulang dalam hidupku. Freya, sampai saatnya kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tak lagi bisa menjagamu. Kutitipkan perasaanku lewat surat ini sampai nanti waktunya tiba. Aku memang tak lebih dari seorang pecundang yang tak pernah berani menampakkan diriku di depanmu. Seorang pengecut yang tak pernah berani menyatakan perasaannya padamu. Aku bertindak seperti ini bukan tanpa alasan. Aku melakukan ini semua karena selalu ada Mike yang menguasai hatimu. Selalu ada nama Mike yang mendiami hati dan pikiranmu. Ku kira, untuk apa aku mengatakan yang sejujurnya bila tak pernah ada aku di dalam sana? Maafkan aku, Freya. Aku hanya tak ingin membuatmu bersedih apalagi sampai menitikan airmata. Dalam diamku, aku mencintaimu.

Ammar

***

Mencintai tak semudah kedengarannya, tidak sesederhana tulisannya. Mencintai tak selalu mengenai balasan, melainkan sebuah ketulusan. Mencintai tak harus memiliki, karena sejatinya cinta yang benar-benar tulus adalah cinta yang hanya ingin membahagiakan. Jatuh cinta diam-diam adalah suatu rasa yang sangat luar biasa. Aku bahagia mencintai seseorang dalam diamku. Meskipun dia tak pernah tahu tentang perasaanku, aku turut bahagia melihatnya tersenyum. Bahkan aku cukup puas hanya menatapnya dari kejauhan, tanpa pernah menyentuhnya sedikitpun. Apakah aku sakit? Apakah aku terluka? Separah apa luka itu?
Mencintai seseorang berarti siap untuk tersakiti. Mencintai seseorang sama saja dengan menawarkan diri untuk di lukai. Luka ini selalu meluap. Setiap kali aku melihatnya bergenggaman tangan bersama yang lain. Setiap saat aku hanya bisa berdiam diri melihatnya berjalan bersama kekasihnya penuh tawa di setiap hela nafasnya. Aku mencintainya bukan tanpa resiko. Dengan aku mencintainya, sama saja aku mengorek luka yang justru akan semakin dalam, semakin sakit, dan semakin perih. Namun, terkadang cinta tak membutuhkan logika. Bicara cinta berarti bicara soal hati dan perasaan. Bukan bicara tentang pendapat mereka yang mengatakan bahwa seseorang yang memilih jatuh cinta diam-diam akan selalu terluka, akan selalu kecewa. Bahwa mereka yang jatuh cinta diam-diam akan memupuk luka yang tak tahu sampai kapan. Iya, cinta diam-diam. Selalu ada makna yang tersimpan di dalamnya. Selalu ada kejutan yang melengkapinya, entah itu bahagia atau terluka, tergantung bagaimana kita bisa dan mau menerima serta menjalani cinta itu sendiri. Aku menikmatinya. Aku menikmati cinta yang kupendam untuk Ammar, meski tanpa balasan.

Nadia


THE END

Created by : Ayuditha Aninda Putri

2 komentar:

Ijal Fauzi mengatakan...

Bagus cerpennya mbak :)

Ayuditha Aninda Putri mengatakan...

Alhamdulillah, makasih jaal doain ya hehe O:)

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal