Dilarang keras meniru atau mencopy-paste apa yang tertulis dalam halaman ini (terutama cerpen,puisi,dll) tanpa menyertakan nama penulis aslinya :) setiap orang pasti pernah berkarya, hargailah karya oranglain jika karyamu ingin di hargai :)

Senin, 10 November 2014

Chococinta #JCDD

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Kalimat itu menyimpan banyak rasa dalam hatiku. Rasa sakit, rasa lelah, rasa gundah, dan masih banyak rasa lain yang selalu sulit kujelaskan. Kalimat itu nyaris tak pernah gagal menyeretku ke dalam luka yang sengaja kututupi rapat-rapat. Luka yang kurasa kini justru semakin melebar. Luka yang entah harus bagaimana aku mengobatinya. Bahkan, aku tak pernah tahu darimana luka ini berasal, entah dari masa lalu, entah karena terlalu lelah menunggu, aku hanya mampu duduk sambil termangu di setiap sudut waktu. Aku hanya mampu menyimpannya baik-baik dalam hati, tanpa perlu oranglain tahu apa yang sedang aku cari.

Ketika suatu penantian berubah menjadi sebuah kesalahan, apa yang seharusnya aku lakukan? Saat suatu harapan bergeser menjadi sebuah kepalsuan paling manis, apa yang semestinya aku lakukan? Entah ini salahku, entah ini salahmu. Kita menjalani hari bersama seakan semuanya baik-baik saja. Seolah tak pernah ada hati yang tersakiti, seperti tak pernah ada kesedihan yang mengisi. Mungkin hanya aku yang merasakan pahitnya. Mungkin hanya aku yang menelan pedihnya hari yang berlalu bagai panggung sandiwara. Lalu apakah aku tak pantas untuk mencari bahagia? Kamu menahanku seolah kamu inginkan aku untuk tetap tinggal. Padahal, nyatanya kamu hanya ingin bermain-main dengan perasaanku yang terjebak dalam nostalgia. Kamu hanya ingin menjadikan aku sebagai hiasan, pajangan, boneka yang dapat kamu mainkan lalu kamu hempaskan ketika tak lagi kamu inginkan. Terlalu sakit jika harus kujelaskan lebih dalam. Semua perjuanganku tak pernah utuh di matamu.
Aku pergi untuk mencari bahagiaku. Aku melangkah sendiri untuk menemukan pelangiku. Mungkin aku sudah terlalu lama membiarkan hatiku terabaikan oleh sesuatu yang bahkan tak pantas untuk kuperjuangkan. Aku berusaha menjadi daun yang tak pernah membenci sang angin walau begitu sulit untuk kulakukan. Hingga aku menemukanmu malam itu. Seseorang dengan kemeja merah yang melekat ditubuhnya terlihat memesona diantara kerumunan orang yang ada disana. Siluet indah senyumnya nyaris membutakan pandanganku yang tersita olehnya. Pertemuan singkat yang menggoreskan tinta baru dalam hati. Dengan warna secerah pelangi, tinta itu terasa mengukir kisah indah di lembaran kertas putih yang terbuka lebar baginya. Lidahku hampir tak tertahan untuk menggumam kagum tanpa jeda setiap kali melihat senyum manisnya yang menjerat kedua bola mataku, memaksaku untuk terus memperhatikannya diam-diam.
Perlahan tapi pasti, aku mulai menghafal raut wajahnya, selalu mengeja namanya secara utuh dalam hati dan mulai menyimpannya. Dalam doaku, ku selipkan namanya. Kuceritakan pada Tuhan tentang hasil pahatan jemariNya yang begitu sempurna. Rasa yang semakin tumbuh menjadi suatu harapan baru yang ingin kutuju. Nyatanya, perasaan ini semakin sulit kujelaskan. Detak jantung yang bergetar hebat setiap saat aku berada disampingnya. Gejolak rasa yang tak mau mereda setiap saat aku menatap matanya. Aku tidak tahu harus menyebut ini sebagai apa. Entah sebagai rasa kagum yang semakin besar menjadi rasa suka lalu berubah menjadi rasa yang lain, aku mungkin terlalu munafik untuk mengakuinya, ini terasa terlalu cepat. Ada rasa ingin menunggu, tentu ada. Ada rasa ingin mengenalnya lebih jauh, pasti ada. Namun, aku bisa apa? Rasanya diam pun sudah lebih dari cukup.
Aku bertemu denganmu tanpa ku tahu apa yang Tuhan mau. Aku tak berani mereka-reka apa yang akan terjadi seterusnya pada perasaanku. Aku hanya mampu mengikuti sang waktu yang terasa semakin memperjelas adanya dirimu dalam hatiku. Biarkan ini semua mengalir sebagaimana mestinya, dan aku akan tetap menunggumu dalam diamku di tempat yang sama. Tempat yang tak akan pernah bisa kamu lihat, selain kamu rasakan dengan hatimu.

To be continued…

Created by: Ayuditha Aninda Putri


0 komentar:

 

Pinker Barbie Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal